Banjir yang menerjang sejumlah rumah di Kabupaten Lumajang pada Senin (2/11/2026). ANTARA/HO-BPBD Lumajang
Lumajang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi
Whisnu Mardiansyah • 3 November 2026 22:34
Lumajang: Pemerintah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menetapkan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi mulai Senin, 2 November 2026. Keputusan tersebut diambil menyusul bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah kecamatan.
Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan penetapan status tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, terutama ancaman banjir dan tanah longsor.
"Langkah itu menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem, termasuk banjir dan tanah longsor," kata Indah dalam keterangannya, seperti dilansir Antara, Selasa, 3 November 2026.
Bupati yang akrab disapa Bunda Indah itu meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menempatkan keselamatan sebagai prioritas. Imbauan terutama ditujukan kepada warga yang tinggal di sekitar aliran sungai dan kawasan rawan longsor.
"Keselamatan warga di sekitar aliran lahar Gunung Semeru menjadi perhatian Pemkab Lumajang setelah banjir lahar menerjang kawasan Besuk Kobokan dan kami memastikan kondisi masyarakat di sekitar lokasi terpantau aman. Saya meminta warga tetap meningkatkan kewaspadaan karena curah hujan masih tinggi," tuturnya.
Perubahan musim dari kemarau ke hujan turut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Peristiwa tanah longsor di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, yang menewaskan seorang ayah dan anaknya, menjadi salah satu kejadian yang menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Isnugroho menyampaikan, hujan deras memicu bencana hidrometeorologi di enam kecamatan. Wilayah terdampak meliputi Jatiroto, Tempursari, Pasirian, Pronojiwo, Senduro, dan Candipuro.

Ilustrasi longsor. Foto: Antara.
"Seperti di Kecamatan Tempursari terdapat sebanyak 117 kepala keluarga (KK) terisolasi akibat akses jalan terputus di Desa Purorejo akibat diterjang banjir lahar Semeru, tiga teras rumah roboh dan 10 rumah berisiko ambruk. Saat ini sudah tidak terisolasi belasan KK tersebut," katanya.
Pemerintah daerah juga mengingatkan warga untuk memantau kondisi lingkungan tempat tinggal, khususnya ketika hujan berintensitas tinggi berlangsung. Masyarakat yang melihat tanda-tanda pergerakan tanah atau kondisi lereng yang berpotensi membahayakan diminta segera menjauh dan berkoordinasi dengan petugas.
Peningkatan kewaspadaan masyarakat dan kesiapan menghadapi keadaan darurat menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko bencana serta menjaga keselamatan warga di tengah potensi cuaca ekstrem.