Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Marulitua Sijabat. Foto: Antara.
BPBD DKI Sebut 200 RW di Jakarta Rawan Banjir
Gabriella Thesa Widiari • 6 November 2026 13:59
Jakarta: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta memetakan ratusan rukun warga (RW) yang tergolong rawan genangan dan banjir. Pemetaan dilakukan untuk mengantisipasi potensi ancaman bencana pada musim hujan.
"Berdasarkan hasil koordinasi kami kemarin, terdapat kurang lebih 200 RW yang masih dalam kondisi titik rawan banjir dan genangan," kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat dilansir dari Antara, Jumat, 6 November 2026.
"Nah, ini yang kami juga sudah mengidentifikasi, ada 403 lokasi penampungan yang sudah kami siapkan bila mana bencana banjir itu terjadi di 2027," ujar Marulitua.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyusun langkah mitigasi terpadu bersama instansi lintas sektor. Marulitua mengatakan koordinasi berkala dilakukan dengan melibatkan pihak TNI, Polri, hingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Upaya kolaborasi tersebut bertujuan menyelaraskan rencana aksi pencegahan dampak cuaca ekstrem di wilayah ibu kota. Puncak curah hujan diproyeksikan akan berlangsung pada Februari 2027.
"Sejumlah wilayah yang masih menjadi lokasi rawan banjir, antara lain Rawa Buaya dan Tegal Alur di Jakarta Barat serta Cawang, Kampung Melayu, dan Cililitan di Jakarta Timur," ucap Marulitua.
.jpg)
Banjir di Jalan Hybrida. Foto: Metro TV/Yurike.
BPBD DKI menggiatkan sosialisasi mitigasi bencana dan pembersihan drainase secara masif kepada warga. Edukasi masyarakat dilakukan berdampingan dengan aksi pembersihan saluran air lingkungan.
Instruksi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memprioritaskan pembenahan infrastruktur penampung air melalui Dinas Sumber Daya Air. Jajaran pemerintah daerah tingkat wilayah diperintahkan mengawal langsung aksi kebersihan lingkungan.
Pemprov DKI juga mempercepat pendorongan distribusi logistik dan peralatan penyelamatan ke zona berisiko sebelum banjir meluap. Skema penanganan difokuskan pada tingkat kesiapsiagaan darurat sejak dini.
Beragam sarana tanggap darurat seperti perahu karet, tenda pengungsian, dan penerangan lapangan telah disiagakan di area strategis. Penyediaan fasilitas pendukung sanitasi juga disiapkan berkolaborasi dengan instansi teknis terkait.
"Jadi, tidak menunggu banjir itu datang, tapi kami lebih kepada kesiapsiagaan," ungkap Marulitua.