Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Anadolu
Netanyahu Akui Kepala Intelijen Mesir Kunjungi Israel Jelang Serangan Hamas
Muhammad Reyhansyah • 14 October 2026 12:41
Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa mantan kepala intelijen Mesir Abbas Kamel pernah mengunjungi Israel sesaat sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Menurut surat kabar Israel Haaretz, Selasa, 13 Oktober 2026, pengakuan itu disampaikan setelah Netanyahu berulang kali membantah laporan bahwa Kairo telah memperingatkannya mengenai rencana serangan tersebut.
Dalam wawancara dengan Channel 14 Israel, Netanyahu mengonfirmasi Kamel sempat berada di Israel selama 59 menit. Namun, ia mengaku tidak mengetahui pejabat Israel yang bertemu dengan mantan kepala intelijen Mesir tersebut.
“Saya ingin tahu siapa yang ditemuinya,” kata Netanyahu, seraya menyinggung dugaan keberadaan deep state atau jaringan kekuasaan di luar struktur resmi pemerintahan.
Melansir Anadolu, Netanyahu juga membantah pernah bertemu maupun berbicara dengan Kamel. Ia mengatakan sedang menghadiri upacara peringatan bagi tentara Israel ketika kunjungan itu berlangsung.
Sebelumnya, Netanyahu menyebut laporan bahwa Kamel telah memperingatkannya mengenai serangan Hamas yang akan datang sebagai “berita palsu”.
Majalah The Atlantic melaporkan pada akhir September bahwa Kamel mengunjungi Israel pada 26 September 2023, atau 11 hari sebelum serangan Hamas, untuk memperingatkan bahwa kelompok tersebut sedang mempersiapkan serangan besar.
Mengutip pejabat Israel, Mesir, negara-negara Arab, Amerika Serikat, dan Eropa yang mendapat penjelasan mengenai kunjungan itu, The Atlantic menyebut Kamel mendesak Israel memberikan konsesi ekonomi kepada Hamas guna mencegah konfrontasi.
Meski demikian, identitas pejabat Israel yang bertemu dengan Kamel dalam kunjungan tersebut belum diketahui secara jelas, menurut laporan majalah itu.
Sementara itu, The Wall Street Journal juga melaporkan bulan lalu bahwa Kamel menelepon Netanyahu beberapa hari sebelum serangan Hamas. Laporan tersebut menyebut komunikasi itu terjadi setelah dua peringatan Mesir sebelumnya tidak ditindaklanjuti.
Secara terpisah, The New York Times melaporkan pada September bahwa Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan juga telah memperingatkan Netanyahu mengenai kemungkinan serangan besar Hamas.
Namun, menurut laporan surat kabar tersebut, Netanyahu tidak meneruskan peringatan itu kepada para pejabat keamanan Israel.