Prabowo Pastikan Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen PDB

Presiden Prabowo Subianto. Foto: Dok. BPMI Sekretariat Presiden.

Prabowo Pastikan Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen PDB

Fachri Audhia Hafiez • 16 March 2026 18:56

Jakarta: Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk tetap mempertahankan ambang batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Batas defisit itu adalah alat yang baik untuk mendisiplinkan diri kita. Kami tidak punya rencana untuk mengubahnya kecuali ada keadaan darurat yang sangat besar seperti COVID-19,” kata Prabowo dalam wawancara khusus dengan Bloomberg, dikutip dari siaran resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, dilansir Antara, Senin, 16 Maret 2026.
 


Prabowo menyampaikan harapan agar pemerintah tidak perlu melakukan perubahan pada regulasi yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara tersebut. Menurutnya, kepatuhan terhadap batas defisit merupakan instrumen krusial guna menjaga kredibilitas dan kedisiplinan fiskal di mata dunia.

“Saya berharap kita tidak perlu mengubahnya,” sambung kata Prabowo.

Di tengah memanasnya konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang mengancam pasokan minyak mentah dunia, Prabowo menilai posisi Indonesia masih relatif aman. Indonesia disebut memiliki alternatif energi yang melimpah seperti kelapa sawit dan batu bara yang harganya cukup kompetitif untuk menjamin ketahanan energi nasional.


Presiden Prabowo Subianto. Foto: ANTARA/Andi Firdaus/aa.

Selain itu, pemerintah tengah mengakselerasi pengembangan energi terbarukan mulai dari panas bumi, tenaga surya, air, hingga biofuel. Strategi ini diproyeksikan bakal memangkas ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dari luar negeri secara signifikan dalam waktu dekat.

“Kalau kita bisa melewati ini, dalam dua tahun kita akan menjadi sangat efisien. Kita akan sangat, sangat tidak bergantung pada sumber dari luar," kata Prabowo.

Isu defisit ini sempat mencuat setelah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan adanya potensi tekanan fiskal jika perang di Timur Tengah berlarut hingga 10 bulan ke depan. Namun, Presiden tetap optimis efisiensi domestik dapat menjadi kunci penjaga stabilitas ekonomi nasional.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)