Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.
Podium Media Indonesia
Merawat Takwa
Abdul Kohar, Media Indonesia • 23 March 2026 07:48
Pekan lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah. Sebelum salat dimulai, sebagaimana biasanya, didahului dengan 'kultum'. Mestinya 'kuliah tujuh menit'. Namun, nyatanya, kerap lebih dari 15 menit. Tak mengapa. Apalagi, isinya menarik.
Sang penceramah, seorang doktor yang mengajar di sebuah perguruan tinggi, mengatakan bahwa ketika Ramadan telah berlalu, ia meninggalkan jejak-jejak spiritual yang semestinya tak sekadar menjadi memori musiman. Persoalannya, kata penceramah, mampukah kita merawat spirit itu saat fajar Syawal menyingsing?
"Ini bukan sekadar pertanyaan teologis tentang diterima atau tidaknya ibadah kita, melainkan sebuah tantangan eksistensial, yakni sejauh mana nilai 'menahan diri' mampu menjadi perisai di tengah gempuran ketidakpastian global yang kian beringas," ia melanjutkan.
Baca Juga :
Privilese di KPK
Kita, paparnya, harus jujur mengakui bahwa tantangan pasca-Ramadan tahun ini jauh lebih kompleks. Di luar sana, lanskap ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja. Gejolak geopolitik, dari ketegangan di Timur Tengah hingga rantai pasok yang tersendat, telah mengirimkan sinyal bahaya berupa ancaman inflasi dan kenaikan harga energi.
"Di titik inilah, spirit Ramadan harus bertransformasi dari sekadar ritual kesalehan individu menjadi energi ketahanan nasional. Spirit Ramadan bukanlah barang antik yang disimpan dalam lemari kaca untuk dipajang tahun depan. Ia adalah mesin penggerak perilaku (takwa)," ia memaparkan.
Di tengah situasi ekonomi yang fluktuatif, kemampuan untuk menahan diri dari perilaku konsumtif berlebihan ialah bentuk takwa yang paling nyata. Membaca kitab suci bukan lagi sekadar mengejar khatam, melainkan juga mencari navigasi moral agar hati tetap tenang (thuma'ninah) di tengah hiruk-pikuk berita resesi.
Mengapa spirit Ramadan relevan dengan tantangan ekonomi kekinian? Jawabannya ada pada prinsip qana’ah, atau merasa cukup dan hidup bersahaja. Ketika harga-harga merangkak naik akibat tekanan global, pola hidup hemat yang diajarkan saat berpuasa menjadi instrumen penyelamat keuangan rumah tangga. Puasa mengajari kita membedakan mana kebutuhan (needs) dan mana sekadar keinginan (wants).
Namun, ketahanan diri saja tidak cukup. Kita butuh ketahanan sosial. Nilai solidaritas (ziswaf) yang memuncak pada Ramadan tidak boleh menguap. Justru saat krisis menghantam kelompok menengah ke bawah, kedermawanan harus diintensifkan. Ini bukan lagi soal filantropi semata, melainkan juga upaya menjaga stabilitas sosial agar tidak terjadi disintegrasi akibat ketimpangan ekonomi.
Selain itu, etos kerja harus dipacu. Islam tidak mengajarkan umatnya berpangku tangan. Dalam menghadapi spekulasi pasar dan ketidakpastian (gharar), investasi di sektor riil dan produktif ialah jalan keluar. Spirit Ramadan yang mengajarkan optimisme, bahwa 'bersama kesulitan ada kemudahan', harus menjadi mentalitas dasar dalam menggerakkan roda ekonomi domestik.
Implementasi nyata dari 'lulusan' Ramadan ialah keberanian untuk memutus rantai utang konsumtif yang mencekik. Prinsip ekonomi yang lebih berkeadilan ialah langkah strategis memperkuat struktur ekonomi pribadi dan bangsa.
.jpg)
Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.id.
Lebih konkret lagi, keberpihakan pada ekonomi lokal dan UMKM ialah bentuk aktualisasi dari nilai kepedulian sosial. Membeli produk tetangga atau pengusaha kecil ialah cara kita memperkuat otot ekonomi nasional agar tidak mudah roboh oleh sentimen global.
Menjadikan takwa sebagai benteng ketahanan ekonomi bukanlah utopia. Jika spirit Ramadan berupa disiplin, menahan diri, dan solidaritas benar-benar terinternalisasi, kita akan menjadi bangsa yang resilien. Kita tidak akan mudah goyah oleh badai geopolitik karena kita memiliki 'jangkar' spiritual yang kuat.
Saya sepakat dengan isi ceramah itu. Ramadan mungkin sudah pergi, tapi sejatinya ia baru saja membekali kita senjata untuk memenangi peperangan yang sesungguhnya, yaitu peperangan melawan ketidakpastian dengan kesabaran, kerja keras, dan kepedulian. Terima kasih tausiahnya, Pak Ustaz.