Kilang Pulau Kharg di Iran yang menjadi incaran serangan AS. Foto: Anadolu
Iran Peringatkan Serangan di Pulau Kharg Picu Krisis Energi Global Baru
Muhammad Reyhansyah • 17 March 2026 06:24
Teheran: Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur minyak di Pulau Kharg dapat berdampak besar pada pasar energi global.
Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Laksamana Muda Alireza Tangsiri, menyampaikan peringatan tersebut melalui unggahan di platform X pada Senin, 16 Maret 2026.
Ia menyatakan bahwa penargetan infrastruktur minyak di pulau tersebut akan mengubah dinamika harga minyak dunia.
“Anda sudah menguji Iran sekali melalui Selat Hormuz,” tulis Tangsiri, dikutip dari Anadolu, Senin, 16 Maret 2026.
“Jika pengendalian cerdas atas selat tersebut menciptakan indikator baru bagi harga minyak, maka serangan terhadap Kharg akan menciptakan persamaan baru yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya bagi harga dan distribusi energi global,” tambahnya.
Pulau Kharg merupakan pusat utama ekspor minyak Iran yang menangani sekitar 90 hingga 95 persen pengiriman minyak mentah negara tersebut.
Pada 2025, pulau tersebut menangani rata-rata antara 1,54 juta hingga 1,7 juta barel minyak per hari. Pulau itu menjadi komponen penting dalam sistem energi Iran sekaligus sumber utama pendapatan pemerintah.
Peringatan Iran muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat mengatakan bahwa militer AS telah menghancurkan seluruh target militer di Pulau Kharg.
Trump juga mengancam akan menyerang infrastruktur minyak di pulau tersebut jika Iran terus menghalangi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Iran diketahui secara efektif menutup Selat Hormuz sejak 1 Maret setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap negara tersebut pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Sejak itu, konflik terus meningkat dengan Iran melancarkan serangan drone dan rudal terhadap Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat. Serangan-serangan tersebut juga berdampak pada pasar global serta sektor penerbangan di kawasan.