Pesawat jet tempur milik Angkatan Udara Pakistan. (Anadolu Agency)
Pakistan Kerahkan Jet Tempur ke Arab Saudi di Tengah Konflik AS-Iran
Dimas Chairullah • 12 April 2026 11:22
Jakarta: Pakistan mengerahkan armada pesawat jet tempur ke Arab Saudi, menandai langkah militer nyata pertama sejak berlakunya pakta pertahanan bersama kedua negara.
Langkah ini terjadi di tengah peran Islamabad sebagai mediator dalam pembicaraan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di ibu kota Pakistan pada Sabtu kemarin dan berakhir hari Minggu ini, 12 April 2026.
Mengutip Al Jazeera, pesawat yang terdiri dari jet tempur dan pesawat pendukung tersebut mendarat di Pangkalan Udara King Abdulaziz, Provinsi Timur Arab Saudi, pada Sabtu waktu setempat. Kementerian Pertahanan Arab Saudi turut mengonfirmasi kedatangan armada tersebut.
Pengerahan ini merupakan implementasi dari perjanjian pertahanan kolektif yang ditandatangani pada September 2025. Dalam kesepakatan itu, Pakistan dan Arab Saudi sepakat bahwa serangan terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai serangan terhadap keduanya.
Perjanjian strategis tersebut diteken saat kunjungan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif ke Riyadh untuk bertemu Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Di sisi lain, Pakistan juga tengah memfasilitasi perundingan langsung antara delegasi AS dan Iran di Islamabad. Upaya diplomatik ini bertujuan meredakan konflik yang telah berlangsung berminggu-minggu di kawasan.
Ketegangan meningkat sejak Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap fasilitas AS di negara-negara Teluk sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Hubungan Pakistan dan Arab Saudi
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengungkapkan bahwa pada awal Maret, Islamabad telah memperingatkan Teheran mengenai kewajiban militernya terhadap Riyadh. Iran juga disebut sempat meminta jaminan agar wilayah Saudi tidak digunakan untuk menyerang mereka.Namun, serangan Iran terhadap target di Arab Saudi, termasuk pangkalan strategis dan fasilitas terkait AS, dilaporkan tetap berlanjut.
Sebagai respons, Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, melakukan kunjungan ke Riyadh untuk membahas langkah mitigasi dalam kerangka pakta pertahanan tersebut.
Beberapa hari sebelum pengerahan jet, PM Sharif juga menegaskan komitmen Pakistan untuk berdiri “bahu-membahu” bersama Arab Saudi dalam komunikasi dengan Putra Mahkota.
Di luar aspek militer, kedua negara juga sepakat mempercepat pencairan investasi Arab Saudi senilai USD5 miliar ke Pakistan. Arab Saudi sendiri menjadi rumah bagi sekitar 2,5 juta pekerja Pakistan yang kontribusi remitansinya penting bagi ekonomi Islamabad.
Analis keamanan berbasis di Islamabad, Imtiaz Gul, menilai pengerahan jet ini lebih bersifat sinyal politik daripada eskalasi militer.
“Ini adalah pesan kepada Iran agar lebih fleksibel dalam perundingan, sekaligus menegaskan komitmen Pakistan terhadap pakta strategis dengan Arab Saudi,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Sementara itu, peneliti senior Atlantic Council, Michael Kugelman, menyebut langkah ini sebagai manuver berisiko.
Menurutnya, Pakistan mengirim sinyal bahwa jika konflik terus berlanjut tanpa kompromi, Islamabad berpotensi semakin mendekat ke Riyadh dan mengaktifkan penuh pakta pertahanan tersebut.
Baca juga: Vance Sebut Perundingan AS-Iran di Pakistan Berakhir Tanpa Kesepakatan