Kelompok separatis Yaman mengusulkan referendum kemerdekaan. (Anadolu Agency)
Separatis Yaman Usulkan Referendum Kemerdekaan, Arab Saudi Serukan Dialog
Willy Haryono • 3 January 2026 11:09
Riyadh: Arab Saudi mengundang faksi-faksi di wilayah selatan Yemen untuk mengikuti “dialog” di Riyadh, menyusul serangan udara mematikan dan langkah mengejutkan kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) untuk mendorong kemerdekaan.
Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial pada Sabtu dini hari, 3 Januarin 2026, Kementerian Luar Negeri Saudi menyerukan digelarnya “konferensi komprehensif di Riyadh yang mempertemukan seluruh faksi selatan untuk membahas solusi yang adil bagi isu selatan."
Dikutip dari TRT World, Riyadh menyebut undangan dialog tersebut dikeluarkan oleh pemerintah Yaman.
Arab Saudi dan UEA selama bertahun-tahun mendukung berbagai faksi di wilayah Yaman yang dikelola pemerintah. Salah satu faksi itu, Southern Transitional Council (STC) yang didukung Abu Dhabi, kini mendorong deklarasi kemerdekaan dan pembentukan negara terpisah—langkah yang berpotensi membelah negara termiskin di Jazirah Arab tersebut menjadi dua.
STC, yang dalam beberapa pekan terakhir merebut wilayah luas di selatan, mengumumkan rencana masa transisi selama dua tahun untuk membentuk “South Arabia” di wilayah selatan Yaman.
Ketua STC Aidarous al-Zubaid dalam pernyataan video mengatakan konstitusi yang dikeluarkan kelompoknya akan berlaku selama dua tahun. Setelah itu, akan digelar referendum untuk “melaksanakan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Selatan."
Selama masa dua tahun tersebut, kata al-Zubaid, “pihak-pihak terkait” di Yaman utara dan selatan perlu menggelar dialog mengenai “jalur dan mekanisme yang menjamin hak rakyat Selatan." Ia memperingatkan bahwa jika faksi lain tidak menyepakati seruannya atau mengambil langkah militer, maka “semua opsi tetap terbuka”.
Konstitusi yang terdiri dari 30 pasal itu memproklamasikan pembentukan “Negara South Arabia," mencakup wilayah yang sama dengan bekas Republik Demokratik Rakyat Yaman—negara Yaman Selatan yang pernah berdiri secara terpisah pada 1967–1990.
Jumat lalu, serangan udara yang dilancarkan koalisi pimpinan Saudi dilaporkan menewaskan 20 orang, menurut pihak separatis. Koalisi yang didukung Saudi dibentuk pada 2015 untuk menyingkirkan Houthis dari wilayah utara Yaman.
Namun setelah satu dekade perang saudara, Houthi masih bertahan di utara, sementara faksi-faksi yang didukung Saudi dan UEA justru saling bertempur di selatan.
Keamanan dan stabilitas kawasan
Masih di hari Jumat, UEA mengklaim telah sepenuhnya menarik seluruh pasukannya dari Yaman. Dalam pernyataan yang dimuat kantor berita negara WAM, Kementerian Pertahanan UEA menyatakan telah menarik sisa personel “kontraterorisme” berdasarkan keputusan sendiri, dengan koordinasi bersama mitra dan langkah-langkah untuk menjamin keselamatan pasukan.Kementerian menyebut keputusan tersebut diambil setelah peninjauan situasi terkini dan sejalan dengan peran UEA dalam mendukung keamanan dan stabilitas kawasan. Pada 30 Desember, UEA mengatakan akan secara sukarela mengakhiri misi “kontraterorisme” yang tersisa pada awal Januari, sekaligus menutup kehadiran militernya di Yaman di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Ketegangan itu meningkat pada akhir 2025 setelah separatis STC mengambil alih wilayah-wilayah strategis di timur Yaman, termasuk Hadramout. Saudi Arabia merespons dengan serangan udara terhadap apa yang disebutnya sebagai pengiriman senjata UEA, serta menyerukan agar pasukan Emirat segera meninggalkan wilayah tersebut.
Baca juga: Separatis Yaman Bertekad Mendirikan Baru Usai Berhasil Rebut Wilayah Kunci