Paus Leo XIV dorong perdamaian Iran-Amerika Serikat. Foto: Anadolu
Paus Leo XIV Desak AS-Iran Lanjutkan Dialog Damai
Dimas Chairullah • 24 April 2026 16:19
Vatikan: Paus Leo XIV mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk segera kembali ke meja perundingan guna mengakhiri peperangan.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga melontarkan kecaman keras terhadap praktik hukuman mati.
Seruan tersebut disampaikan Paus Leo XIV dalam konferensi pers di atas pesawat kepausan pada Kamis waktu setempat. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan pulang menuju Roma usai merampungkan tur bersejarahnya di benua Afrika.
Menyikapi eskalasi konflik AS-Iran yang terus memanas yang juga diwarnai adu argumen publik antara dirinya dengan Presiden AS Donald Trump, Paus menyerukan pentingnya membangun "budaya damai". Ia meminta penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan konflik untuk segera ditinggalkan.
"Pertanyaannya (bukan soal rezim), namun seharusnya tentang bagaimana mempromosikan nilai-nilai yang kita yakini tanpa mengorbankan begitu banyak nyawa orang yang tidak bersalah," ujar Paus Leo XIV, dikutip dari PBS, Jumat, 24 April 2026.
Sebagai bentuk keprihatinan mendalam, Paus mengungkapkan bahwa ia selalu membawa selembar foto anak laki-laki Muslim asal Lebanon. Anak yang sempat menyambutnya di Lebanon tahun lalu itu dilaporkan tewas dalam perang terbaru Israel-Hizbullah.
"Sebagai seorang pendeta, saya tidak dapat mendukung perang," tegasnya.
Saat disinggung mengenai gelombang eksekusi mati di Iran baru-baru ini, Paus mengutuk keras segala tindakan yang merenggut nyawa manusia secara tidak adil. Ia menegaskan bahwa kehidupan manusia harus dihormati dan dilindungi sejak pembuahan hingga kematian alami.
Selain masalah perang, Paus juga menyoroti isu krisis migrasi global. Ia mengakui setiap negara berdaulat berhak memberlakukan kontrol di perbatasannya. Namun, ia mengecam perlakuan tak manusiawi terhadap para migran dan menegaskan bahwa mereka tidak boleh diperlakukan "lebih buruk daripada hewan peliharaan."
Dalam konferensi pers tersebut, Paus juga meluruskan isu pemberkatan pasangan sesama jenis (LGBTQ+) yang memicu kontroversi di Jerman. Ia menegaskan bahwa Takhta Suci tidak menyetujui pemberkatan secara "resmi" atau terlembaga, melainkan hanya mengizinkan pemberkatan informal yang sifatnya spontan.
Paus asal AS ini menyayangkan bahwa wacana gereja di Barat terlalu direduksi dan didominasi oleh isu moralitas seksual semata. Padahal, menurutnya, ada masalah besar seperti keadilan, kesetaraan, dan kebebasan beragama yang seharusnya menjadi prioritas utama.
Menutup perbincangannya, Paus merespons kritik atas sikap lunaknya terhadap sejumlah pemimpin otoriter di Afrika selama tur berlangsung. Ia menegaskan bahwa diplomasi senyap di balik layar kerap kali jauh lebih efektif, ketimbang hanya melontarkan "proklamasi besar yang mengkritik, menghakimi, atau mengutuk."