Hujan masih mengguyur sejumlah daerah di Pantura bagian timur Jawa Tengah sejak pagi, meningkatkan kekhawatiran warga akan potensi banjir yang lebih besar. Genangan air masih merendam puluhan kawasan di kedua kabupaten tersebut.
Di Kabupaten Kudus, banjir tidak hanya merendam jalur Pantura Kudus-Pati hingga menyebabkan kemacetan panjang, tetapi juga menggenangi permukiman penduduk di delapan desa dengan ketinggian 20-80 sentimeter. Sebanyak 47 sekolah terpaksa melaksanakan pembelajaran secara daring akibat terdampak banjir.
Sementara di Kabupaten Pati, banjir akibat meluapnya sejumlah sungai telah merendam 59 desa di 15 kecamatan. Kecamatan yang terdampak meliputi Pati Kota, Wedarijaksa, Margoyoso, Tayu, Dukuhseti, Tlogowungu, Margorejo, Tambakromo, Gabus, Winong, Batangan, Juwana, Pucakwangi, Jakenan, dan Sukolilo. Banjir dengan ketinggian 20-100 sentimeter itu juga menggenangi jalur Pantura Pati-Rembang di wilayah Batangan.
"Jumlah warga terdampak banjir di Kudus meningkat menjadi 14.437 jiwa (4.610 keluarga). Juga dilaporkan ada tiga korban jiwa," kata Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Ahmad Munaji, dikutip Media Indonesia Selasa, 13 Januari 2026.
Munaji menjelaskan, bencana banjir dan longsor di Kudus dipicu cuaca ekstrem sejak Jumat, 9 Januari lalu. Hujan deras disertai angin kencang dan petir yang mengguyur Kawasan Gunung Muria menyebabkan longsor di sejumlah titik serta meluapnya Sungai Piji, Dawe, dan Gelis.
Berdasarkan data BPBD Kudus, banjir melanda enam desa di Kecamatan Mejobo, dua desa di Kudus Kota, satu desa di Jekulo, dan lima desa di Kaliwungu. Sementara untuk bencana tanah longsor, tercatat 10 desa di Kecamatan Dawe dengan 24 titik longsor, dua desa di Kecamatan Gebog dengan 19 titik, dan satu desa di Kecamatan Bae dengan dua titik.
"Korban meninggal akibat bencana tersebut bertambah menjadi tiga orang," lanjut Munaji. Korban terdiri dari satu orang tertimba longsor di Desa Menawan, Kecamatan Gebog, serta dua orang lainnya terseret arus banjir di Desa Bacin, Kecamatan Bae, dan di Sungai Perak, Desa Karangbener, Kecamatan Bae.

Di sisi lain, bencana banjir di Kabupaten Pati juga menunjukkan tren meluas. Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Pati, Suntoro, menyatakan gelombang pengungsian terus bertambah seiring tingginya intensitas hujan.
"Ada 650 jiwa (263 keluarga) saat ini terpaksa mengungsi akibat banjir tersebut, baik di rumah tetangga maupun balai desa setempat," ujar Suntoro.
Ia menambahkan, sebanyak 250 warga Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Pati, juga mengungsi ke Masjid Jami’ Rohmanti An-Nur di kelurahan yang sama setelah rumah mereka terendam.
"Warga yang diungsikan mayoritas kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan balita," tambah Suntoro.