BEI: FTSE Russell Dukung Aksi Reformasi Pasar Modal RI

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik. Foto: Dok istimewa

BEI: FTSE Russell Dukung Aksi Reformasi Pasar Modal RI

Eko Nordiansyah • 10 February 2026 14:40

Jakarta: Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan perusahaan penyedia indeks global Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell telah memberikan dukungannya atas rencana aksi reformasi pasar modal Indonesia.

“Dalam pertemuan kami dengan FTSE kemarin dapat kami sampaikan, FTSE memberikan support atas rencana aksi yang sedang dilakukan oleh BEI bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO),” ujar Jeffrey kepada awak media di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 10 Februari 2026.

Jeffrey mengatakan penyedia indeks global tersebut menekankan terkait dengan implementasi aksi reformasi pasar modal Indonesia, supaya sesuai dengan time line yang telah disampaikan oleh BEI.

“Mereka menekankan pada implementasinya agar sesuai dengan timeline yang sudah disampaikan,” ujar Jeffrey.

Dalam kesempatan ini, Jeffrey menyampaikan apresiasinya atas dukungan yang diberikan oleh FTSE Russel, serta mencermati bahwa penyedia indeks global tersebut tidak menyampaikan concern terkait country classification, seperti layaknya yang dilakukan oleh MSCI.

“Kami tentu mengapresiasi dukungan dari FTSE. Kita juga dapat memahami FTSE juga tidak menyampaikan concern terkait country classification,” ujar Jeffrey.

Baca Juga :

Proses Demutualisasi BEI, OJK Tunggu Penerbitan PP



(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Penundaan review indeks FTSE Russell

Pada Selasa pagi, 10 Februari 2026, FTSE Russell mengumumkan penundaan review indeks Indonesia periode Maret 2026, seiring masih berlangsungnya reformasi pasar modal Indonesia oleh OJK dan BEI, khususnya terkait transparansi dan keandalan perhitungan free float emiten domestik.

Penundaan dilakukan untuk menghindari potensi distorsi indeks akibat ketidakpastian data dan risiko penurunan likuiditas selama masa transisi kebijakan pasar modal. Kebijakan ini bersifat teknis dan sementara, serta tidak berkaitan dengan klasifikasi status pasar saham Indonesia dalam kerangka Equity Country Classification FTSE.

Selanjutnya, FTSE akan mengumumkan review kuartalan FTSE untuk periode Juni 2026, dengan pengumuman akan disampaikan pada 22 Mei 2026.

Sebagaimana diketahui, OJK bersama BEI dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus mengakselerasi reformasi struktural pasar modal Indonesia, dalam rangka memperkuat integritas, transparansi, dan daya saing pasar, sekaligus menindaklanjuti masukan dari MSCI Inc. (MSCI), dengan agenda reformasi di antaranya:
  1. Perluasan keterbukaan data kepemilikan saham. Keterbukaan data kepemilikan saham tidak lagi terbatas pada kepemilikan di atas lima persen. BEI akan menambahkan pengungkapan kepemilikan saham di atas satu persen persen yang disampaikan secara bulanan, guna semakin meningkatkan transparansi pasar.
  2. Penyempurnaan klasifikasi investor dalam Single Investor Identification (SID). Saat ini, SID mengenal sembilan jenis investor, dan KSEI akan berkolaborasi dengan pelaku pasar untuk menambahkan sejumlah data fields guna meningkatkan granularitas data. Penyempurnaan ini akan dilakukan melalui penambahan 27 klasifikasi investor sebagai subkategori pada jenis investor Corporate (CP) dan Others (OT) dalam SID.
  3. Peningkatan ketentuan minimum free float. Sebagai kelanjutan dari upaya pendalaman pasar dan penyelarasan dengan delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia, ketentuan minimum free float akan ditingkatkan dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Peningkatan tersebut akan diterapkan secara bertahap.
Pada penutupan perdagangan sesi I di BEI pada Selasa, 10 Februari 2026, IHSG tercatat menguat 100,87 poin atau 1,25 persen ke posisi 8.132,75.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.524.156 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 26,93 miliar lembar saham senilai Rp11,92 triliun. Sebanyak 572 saham naik, 126 saham menurun, dan 118 tidak bergerak nilainya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)