Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Dokumentasi/ istimewa.
Penguatan Karakter Jadi Bagian Penting dalam Menjawab Tantangan NU ke Depan
Deny Irwanto • 27 August 2026 06:50
Jombang: Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyampaikan gagasan mengenai arah NU dalam menghadapi tantangan lima tahun mendatang. Ia menilai penguatan adab, karakter, persaudaraan, profesionalisme, serta kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi.
Menurut Gus Kikin, kepemimpinan di lingkungan NU semestinya ditempatkan sebagai bentuk pengabdian. Jabatan tidak seharusnya menjadi tujuan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
"Jabatan itu amanah. Tidak boleh terlalu ambisi terhadap jabatan," kata Gus Kikin selaku Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Rabu, 26 Agustus 2026.
Dalam pandangannya, NU tidak perlu masuk terlalu jauh ke dalam politik praktis. Namun organisasi tetap memiliki ruang dalam kehidupan kebangsaan sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang ikut menjaga persatuan dan memperjuangkan nilai kemanusiaan.
“NU tidak bisa lepas dari politik, namun agendanya politik kebangsaan dan kemanusiaan. Hal itu harus melampau segala kepentingan praktis.” ungkap Gus Kikin.
NU sebagai Rumah Bersama
Gus Kikin juga melihat NU perlu terus berkembang sebagai rumah bersama bagi seluruh warganya. Penguatan kelembagaan dan intelektualitas, menurut dia, perlu berjalan beriringan dengan pembangunan karakter serta kepedulian terhadap sesama.

Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Dokumentasi/ istimewa.
Ia menilai pembangunan manusia tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual. Aspek karakter, kepedulian, serta kemampuan memahami persoalan sosial juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi menghadapi perubahan.
“NU harus mempunyai hati. Kita harus memperkuat dan mengasah hati kita,” ujarnya.
Menurut Gus Kikin, tantangan global dan perubahan sosial membutuhkan masyarakat yang memiliki daya tahan atau resiliensi. Karena itu, penguatan karakter menjadi salah satu fondasi agar kemampuan intelektual dapat berjalan bersama kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Ilmu Berjalan Bersama Adab
Dalam konteks kaderisasi, Gus Kikin mendorong lahirnya generasi muta'allim, yakni generasi pembelajar yang memiliki kemampuan untuk terus mengembangkan pengetahuan dan menghadapi tantangan zaman.
Namun, kemampuan intelektual tersebut dinilai perlu disertai adab. Pengetahuan, menurutnya, akan memiliki manfaat lebih luas apabila digunakan dengan mempertimbangkan nilai, tanggung jawab, dan kepentingan masyarakat.
“Kita harus mempunyai intelegensia, tetapi intelektual itu harus dibungkus dengan adab,” tegas Gus Kikin.
Gagasan tersebut menempatkan penguatan karakter, ilmu, persaudaraan, dan profesionalisme sebagai bagian dari upaya membangun NU yang mampu merespons perubahan zaman.
Dalam kerangka itu, politik kebangsaan dan kemanusiaan dipandang sebagai ruang pengabdian yang dapat mempertemukan peran NU sebagai organisasi keagamaan dengan kebutuhan masyarakat dan kehidupan berbangsa.