Kawasan wisata Gunung Bromo. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
TNBTS: Wisata Bromo Tetap Buka, Pendakian Semeru Ditutup Total
Daviq Umar Al Faruq • 29 August 2026 10:47
Malang: Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memberikan kepastian mengenai status operasional kawasan wisata pascakebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengelola menegaskan, penutupan akses tidak berlaku bagi seluruh destinasi di kawasan taman nasional tersebut.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menjelaskan adanya perbedaan kebijakan antara kawasan wisata Gunung Bromo dan jalur pendakian Gunung Semeru guna menjawab kebingungan calon wisatawan.
"Yang ditutup (hanya) jalur pendakian ke Semeru sampai dengan Ranu Kumbolo. Kalau Gunung Bromo, sudah kita buka sejak tanggal 20 Agustus 2026 kemarin," tegas Rudijanta di Malang, Jumat, 28 Agustus 2026.
"Jadi yang ditutup baru dari dua hari kemarin tuh jalur pendakian Semeru. Tentunya kita akan buka lagi ketika kebakaran sudah sudah bisa kita kendalikan dan kita sudah bisa pastikan jalur-jalurnya cukup bisa menjamin keselamatan pengunjung yang nanti akan datang," jelas Rudijanta.
Keputusan mengisolasi jalur pendakian Semeru diambil demi mengutamakan keselamatan para pengunjung dari potensi bahaya karhutla. Evaluasi terhadap kelayakan dan keamanan rute perlintasan akan terus dilakukan secara berkala oleh tim gabungan.
"Nah, makanya tadi saya sampaikan juga, ketika nanti sudah bisa kita kendalikan api dan juga kita akan pastikan jalurnya aman, tentunya itu sudah kita kaji bahwa jalur sudah cukup aman bagi pendaki untuk kembali mengunjungi kawasan," terang Rudijanta.
.jpg)
Proses penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Blok Ranu Kembang, Gunung Semeru/Balai Besar TNBTS
Pembukaan kembali akses pendakian Semeru baru akan diputuskan setelah seluruh titik api dipastikan padam total dan tidak membahayakan. Balai Besar TNBTS juga memfokuskan pengawasan pada kesiapan sarana prasarana penunjang keselamatan di sepanjang jalur.
"Kami mengimbau kepada masyarakat bahwa saat ini Indonesia di beberapa tempat tengah berada di dalam kemarau panjang, yang mana memang dengan situasi kemarau panjang dan kondisi alam yang memang sebagian besar kering, potensi terjadinya kebakaran cukup besar," ujar Rudijanta.
TNBTS meminta seluruh wisatawan maupun masyarakat sekitar untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak melakukan tindakan memicu api selama musim kemarau. Kerja sama publik sangat dibutuhkan agar kelestarian kawasan konservasi tetap terjaga dan penutupan jalur tidak membendung aktivitas perekonomian daerah.
"Sehingga agar masyarakat lebih bijaksana ketika melakukan aktivitas yang punya potensi menimbulkan kebakaran. Sehingga jangan sampai akibat tadi, keteledoran itu bisa menimbulkan dampak yang cukup besar yang seperti yang kita alami sekarang. Tentunya banyak yang dirugikan, aktivitas ekonomi, sehingga itu perlu menjadi perhatian kita bersama agar kita semua dapat saling mendukung, saling membantu, dan saling menjaga," pungkas Rudijanta.