Karhutla Hanguskan 170 Hektare Kawasan Semeru, Mayoritas Sabana

Proses penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Blok Ranu Kembang, Gunung Semeru/Balai Besar TNBTS

Karhutla Hanguskan 170 Hektare Kawasan Semeru, Mayoritas Sabana

Daviq Umar Al Faruq • 29 August 2026 08:57

Malang: Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah memetakan total luasan lahan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Semeru. Kebakaran vegetasi yang meluas di area perkemahan dan jalur pendakian tersebut tercatat menghanguskan ratusan hektare kawasan konservasi.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan mayoritas area yang terbakar merupakan ekosistem sabana, meski api juga menjangkau area hutan bervegetasi pohon cemara.

"Dari perhitungan kami yang dipetakan hingga kemarin malam, areal yang terbakar sekitar 170 hektare. Sebagian besar berupa padang rumput, mungkin sekitar 70 persen. Sisanya adalah area bervegetasi yang didominasi pohon cemara," kata Rudijanta di Malang, Jumat, 28 Agustus 2026.

Dampak karhutla tersebut dipastikan memicu potensi gangguan terhadap keberlangsungan ekosistem dan habitat satwa di kawasan konservasi. Pihak balai besar akan melakukan pengkajian khusus mengenai dampak terhadap flora dan fauna setelah pemadaman tuntas.

"Pastinya ada, pastinya ada. Nanti kita akan kaji lagi beberapa dampak terhadap kehidupan liar ataupun satwa-satwa yang ada di sana. Tetapi saat ini kita memang belum bisa mengatakan dampaknya seperti apa. Nanti kita akan sampaikan ketika informasi itu sudah lengkap," terang Rudijanta.

Guna menghitung total kerusakan secara presisi, Balai Besar TNBTS telah berkoordinasi dengan kementerian terkait. Tim ahli independen dikerahkan ke lapangan untuk melakukan pendataan menyeluruh.

"Kalau secara total tentunya kita apa namanya, perlu memperhitungkan jumlah-jumlah yang keseluruhan ya. Karena ini kan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu cukup luas, 50.000 hektare gitu kan. Kemarin kita kan di Bromo sudah terpantau sekitaran 1.000 hektar ya, 1.000 hektare. Ini ada tambahan 170 hektare di sekitar Semeru," jelas Rudijanta.

Proses penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Blok Ranu Kembang, Gunung Semeru/Balai Besar TNBTS

Penghitungan kerugian lingkungan dipastikan menggunakan metodologi ilmiah yang teruji. Otoritas TNBTS mempercayakan proses pengumpulan data lapangan kepada tim akademisi.

"Kerusakannya nanti sudah ada tim yang ditunjuk Kementerian Kehutanan untuk mengkalkulasi kerugian, akademisi dari IPB yang saat ini sedang melakukan pencarian informasi ya. Tentunya kita perlu menunggu hasilnya saja. Karena kalau kami yang menyatakan, tentunya metode-metodenya kurang begitu pas juga. Tapi kalau dari akademisi tentu akan lebih apa namanya, secara scientific lebih teruji, gitu," pungkas Rudijanta.

Data hasil audit lingkungan dari IPB tersebut nantinya dijadikan dasar penyusunan program pemulihan ekosistem di Gunung Semeru. Petugas gabungan di lokasi hingga saat ini tetap bersiaga memadamkan sisa titik api.

(Lukman Diah Sari)