Dirut PLN Darmawan Prasodjo (ketiga kiri), Dirut Pelindo Achmad Muchtasyar (ketiga kanan), dan Kepala KSOP Tanjung Priok Heru Susanto meresmikan OPS 1 MVA. (dok. PLN)
PLN dan Pelindo Resmikan Onshore Power Supply 1 MVA di Tanjung Priok, Dukung Pelabuhan Ramah Lingkungan
Duta Erlangga • 18 September 2026 07:57
Jakarta: Upaya mendorong operasional pelabuhan yang lebih ramah lingkungan mulai diperkuat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. PT PLN (Persero) bersama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) meresmikan dua unit Onshore Power Supply (OPS) dengan total kapasitas 1 megavolt ampere (MVA) di Dermaga Serbaguna Nusantara (DSN), Rabu, 16 September 2026.
Fasilitas tersebut merupakan tahap awal dari rencana pengembangan 24 unit OPS di kawasan Tanjung Priok. Pengoperasiannya dilakukan PT Energi Pelabuhan Indonesia (EPI), perusahaan patungan antara PT PLN Electricity Services dan PT Pelindo Jasa Maritim, sebagai bagian dari sinergi kedua perusahaan dalam mendukung efisiensi energi sekaligus mengurangi emisi di sektor maritim.
Masing-masing unit OPS memiliki kapasitas 500 kilovolt ampere (kVA). Teknologi ini memungkinkan kapal yang tengah bersandar memperoleh pasokan listrik langsung dari daratan, sehingga mesin diesel kapal dapat dimatikan selama berada di pelabuhan.

Tampak petugas PLN dan Pelindo sedang melakukan koordinasi di depan dua unit Onshore Power Supply(OPS) dengan total kapasitas 1 MVA di Dermaga Serbaguna Nusantara (DSN), Tanjung Priok, Jakarta Utara. Lewat sistem OPS ini, listrik dari jaringan PLN disalurkan ke kapal melalui fasilitas konversi yang mendukung kebutuhan kapal dengan frekuensi 50 hertz (Hz) maupun 60 Hz, sehingga mampu melayani dua hingga empat kapal secara bersamaan. (dok. PLN)
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan penyediaan listrik untuk fasilitas OPS sejalan dengan asta cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam mendorong dekarbonisasi industri dan pembangunan berkelanjutan di sektor maritim melalui pengembangan Green Port. Menurutnya, langkah tersebut penting karena aktivitas kapal di pelabuhan turut berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, termasuk dari penggunaan mesin diesel selama kapal bersandar.
"Kehadiran fasilitas OPS di Tanjung Priok menjadi solusi untuk mengurangi emisi dari kapal selama bersandar di pelabuhan. Melalui OPS, kebutuhan listrik kapal dapat dipenuhi dari sumber listrik di darat, sehingga penggunaan mesin diesel dapat ditekan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya PLN mendukung dekarbonisasi sektor maritim sekaligus mendorong terwujudnya ekosistem pelabuhan yang lebih hijau dan berkelanjutan," ujar Darmawan.
Lebih lanjut, Darmawan memastikan penyediaan listrik untuk fasilitas OPS menunjukkan kesiapan infrastruktur kelistrikan PLN dalam mendukung kebutuhan energi di kawasan pelabuhan. Dukungan tersebut sekaligus memperkuat elektrifikasi sektor maritim yang membutuhkan pasokan listrik andal untuk menunjang kegiatan operasional kapal selama berada di pelabuhan.
"Dukungan kelistrikan yang andal merupakan salah satu komitmen PLN dalam mengakomodir kebutuhan energi bersih di kawasan pelabuhan maupun industri skala besar. Ini adalah bentuk sinergi BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dalam mendukung transformasi sektor kepelabuhan melalui pemanfaatan energi domestik, sekaligus mendorong produktivitas melalui penghematan para pelaku usaha di bidang maritim dan mengoptimalkan aktivitas pelabuhan," ucap Darmawan.
Direktur Utama PT Pelindo (Persero) Achmad Muchtasyar mengatakan pengoperasian OPS menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi kawasan pelabuhan menuju operasional yang lebih hijau dan efisien. Menurutnya, pemanfaatan listrik dari darat juga mendukung terciptanya ekosistem pelabuhan yang lebih produktif dan berkelanjutan.
"OPS bukan sekadar menggantikan sumber listrik kapal dari genset menjadi listrik darat. Ini merupakan langkah konkret dalam transformasi Pelabuhan Tanjung Priok menuju green port, dengan menghadirkan energi yang lebih efisien, lebih bersih, dan lebih andal. Kami ingin membangun ekosistem pelabuhan yang tidak hanya semakin produktif, tetapi juga semakin berkelanjutan," kata Achmad.
Fasilitas OPS di DSN, Tanjung Priok ini menjadi yang pertama di Indonesia yang lulus uji standar internasional IEC/IEEE 80005-3:2025. Keandalannya telah teruji melalui serangkaian uji coba penyambungan penuh pada Juli lalu, yang memungkinkan seluruh genset kapal dimatikan selama bersandar.
Melalui sistem OPS ini, listrik dari jaringan PLN disalurkan ke kapal melalui fasilitas konversi yang mendukung kebutuhan kapal dengan frekuensi 50 hertz (Hz) maupun 60 Hz, sehingga mampu melayani dua hingga empat kapal secara bersamaan.

Petugas PLN dan Pelindo tampak sedang melakukan pengecekan fasilitas unit Onshore Power Supply di Dermaga Serbaguna Nusantara (DSN), Tanjung Priok, Jakarta Utara. Fasilitas OPS tersebut menjadi yang pertama di Indonesia yang lulus uji standar internasional IEC/IEEE 80005-3:2025 dimana telah teruji melalui serangkaian uji coba penyambungan penuh pada Juli lalu, yang memungkinkan seluruh mesin diesel kapal dimatikan selama bersandar. (dok. PLN)
Direktur Utama PT Energi Pelabuhan Indonesia, Andriyuda Siahaan mengatakan, pengembangan OPS rencananya akan dilakukan secara bertahap mulai dari kawasan Pelabuhan Tanjung Priok sebanyak 24 unit pada 2027 dan berpotensi direplikasi ke terminal multipurpose, dermaga umum, serta pelabuhan lain hingga mencapai 123 unit OPS pada 2050.
Sementara itu, melalui hasil uji coba OPS di Tanjung Priok, lanjut Andriyuda, menunjukkan adanya efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang signifikan dalam satu kali sandar.
"Kita lakukan uji coba, tidak sampai 24 jam efisiensinya mencapai sekitar 700 liter (setara 50 hingga 60 persen per hari sandar). Tidak sampai 24 jam," ujar Andriyuda.
Ia menambahkan, manfaat dari efisiensi tersebut akan semakin besar apabila penerapan OPS dilakukan secara lebih luas. Melalui implementasi penuh pada 24 unit berkapasitas total 12 MVA yang rencananya akan dibangun, potensi penghematan BBM diperkirakan mencapai sekitar 4-5 juta liter per tahun, dengan potensi penurunan emisi hingga sekitar 8-10 ribu ton CO2 per tahun.
Selain menekan emisi karbon, penggunaan listrik dari darat juga mengurangi polusi udara, kebisingan, dan getaran yang ditimbulkan dari kapal selama bersandar. Dari sisi kualitas pasokan, hasil uji coba menunjukkan tegangan listrik juga berada pada level stabil.
"Hasil uji coba OPS di Tanjung Priok membuktikan bahwa elektrifikasi pelabuhan memberikan dampak yang terukur, mulai dari penghematan bahan bakar hingga 60 persen per hari sandar, penurunan emisi karbon sekitar 1,5 ton CO2 per hari sandar, hilangnya asap dan kebisingan genset, hingga kualitas daya listrik yang jauh lebih stabil bagi kapal," tutup Andriyuda.