Permintaan Naik, Harga Masker di Pasar Asemka Naik hingga Tiga Kali Lipat

Masker yang dijual di Pasar Asemka, Jakarta Barat. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah.

Permintaan Naik, Harga Masker di Pasar Asemka Naik hingga Tiga Kali Lipat

Husen Miftahudin • 8 September 2026 18:51

Jakarta: Harga masker di Pasar Asemka, Jakarta Barat, mengalami kenaikan sejak meningkatnya permintaan masyarakat di tengah penyebaran abu vulkanik. Sejumlah pedagang menyebut kenaikan harga terjadi karena pasokan masker dari distributor mulai tersendat.
 
Salah seorang pedagang masker, Yusi, mengatakan permintaan masker meningkat signifikan sejak Minggu, 6 September 2026. Jika sebelumnya pembeli hanya membeli dalam jumlah kecil, kini satu orang bisa membeli hingga beberapa kotak sekaligus.
 
"Yang tadinya jarang yang nyari, sekarang jadi banyak banget yang nyari. Satu orang bisa tiga box," ucap Yusi kepada Metrotvnews.com di Pasar Asemka, Jakarta Barat, Selasa, 8 September 2026.
 
Menurut Yusi, jenis masker duckbill menjadi salah satu yang paling banyak dicari masyarakat. Harga masker yang sebelumnya Rp20.000 per pack kini naik menjadi sekitar Rp25 ribu per pack berisi 50 masker.
 
Ia menyebut kenaikan harga dipengaruhi kelangkaan barang di pabrik. Pasokan masker yang ia jual didatangkan dari sejumlah daerah di luar Jakarta, seperti Tangerang dan wilayah Jawa.
 
Meski permintaan meningkat, stok masker di tokonya masih tergolong aman. Yusi mengaku memiliki persediaan sekitar 20 koli dan menilai jumlah tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
 



(Pembeli tengah mencari masker di Pasar Asemka, Jakarta Barat. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah)
 

Harga distributor ikut naik

 
Pedagang lainnya, Toni, juga merasakan kenaikan harga dari distributor. Harga yang sebelumnya Rp12.500 per pack, kini naik menjadi Rp15 ribu dan kemudian mencapai Rp18 ribu per pack. Lonjakan pembeli pun ia rasakan sejak Minggu, 6 September 2026.
 
"Kenaikan dari pemasok, awalnya Rp12.500 naik ke Rp15 ribu, naik ke Rp18 ribu, jadi kita jual lagi Rp20 ribu sampai Rp25 ribu. Itu terjadi dari Minggu," ucap dia.
 
Ia menyebut pembelian terbesar di tokonya mencapai 95 koli dalam satu transaksi. Masker dari tokonya dibeli untuk dijual kembali, salah satunya oleh pedagang kaki lima yang menjualnya kembali secara eceran.
 
Toni mengatakan sebagian besar pasokan masker yang diperolehnya berasal dari produk impor karena stok dari produsen lokal sedang tersendat. Ia berharap kenaikan harga hanya berlangsung sementara dan kembali normal setelah permintaan serta pasokan masker kembali stabil. (Tiaranissa Juliansyah)

(Husen Miftahudin)