Presiden Suriah Viral, Nonton Reels Instagram saat Pidato Erdogan di Sidang PBB

Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa menonton reels Instagram di tengah Sidang Majelis Umum PBB 2026. (Istimewa)

Presiden Suriah Viral, Nonton Reels Instagram saat Pidato Erdogan di Sidang PBB

Riza Aslam Khaeron • 23 September 2026 19:59

Washington DC: Aksi Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa saat menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York viral di internet saat tertangkap kamera sedang membuka aplikasi Instagram melalui ponselnya di tengah pidato pemimpin lainnya dan disebar di beragam media sosial pada Rabu, 23 September 2026.

Mengutip NDTV, Video tersebut menunjukkan pemimpin Suriah pengganti Diktator Bashar al-Assad tersebut tengah menyaksikan video pendek (reels) Instagram di tengah pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di hadapan para pemimpin dunia.

Al-Sharaa juga disebut terekam sempat membagikan video pendek yang dia tonton di Instagram, meski rekaman yang beredar tidak memperlihatkan secara pasti aktivitas maupun konten yang sedang diaksesnya.

Di media sosial, tanggapan netizen cenderung menganggap tindakan al-Sharaa sebagai hal yang wajar dan bisa dimengerti oleh masyarakat awam.

"Saya pernah berada di situasi seperti itu dan saya paham. Acara-acara seperti itu sangat membosankan dan hampir semua orang sudah tahu apa yang akan disampaikan pembicara lainnya," tulis salah satu pengguna di Reddit.
 

Sejarah Kehadiran Suriah di UNGA


Ahmed al-Sharaa di Sidang Majelis Umum PBB 2026. (Dok. Kantor Kepresidenan Suriah)

Momen tersebut terjadi tepat sebelum giliran al-Sharaa sendiri maju ke podium dan menyampaikan pidato. Beberapa jam setelah video tersebut viral, al-Sharaa memberikan keterangan mengenai isu-isu diplomatik di Timur Tengah.

Saat berbicara kepada wartawan di New York, ia menegaskan bahwa penarikan pasukan Israel dari zona keamanan yang diklaim secara sepihak di wilayah Suriah merupakan syarat awal sebelum perundingan menuju kesepakatan kedua negara dapat dimulai. Ia juga menyatakan bahwa perdamaian abadi merupakan tujuan yang realistis untuk dicapai.

"Dataran Tinggi Golan adalah wilayah Suriah yang diakui oleh PBB... Jadi tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi," ujar al-Sharaa.

Momen ini menandai kehadiran kedua al-Sharaa pada Majelis Umum PBB sejak 2025, setelah dirinya menjadi presiden Suriah pertama yang menghadiri forum tersebut dalam hampir enam dekade terakhir.

Sebelum Sharaa, kepala negara Suriah terakhir kali tercatat menghadiri Sidang Majelis Umum PBB pada tahun 1967, sebelum dimulainya era pemerintahan dinasti Assad selama 50 tahun.

Era tersebut berakhir pada Desember 2024 ketika Presiden Bashar al-Assad digulingkan dalam serangan kilat kelompok pemberontak yang dipimpin oleh al-Sharaa, sekaligus mengakhiri konflik bersenjata yang berlangsung hampir 14 tahun.

Pasca-pengambilalihan kekuasaan, al-Sharaa berupaya memulihkan hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab dan Barat. Sejumlah negara sempat bersikap waspada mengingat rekam jejak al-Sharaa yang pernah terhubung dengan kelompok al-Qaeda.
 
Kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham yang pernah dipimpinnya juga sempat dimasukkan dalam daftar organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan Turki.

Namun, kedua negara tersebut kemudian mencabut al-Sharaa dari daftar teroris setelah dia menjabat sebagai Presiden Interim Suriah. Pihak Washington juga mencabut sanksi ekonomi terhadap Suriah pada bulan Agustus lalu.

Meski al-Sharaa mengusung narasi koeksistensi dan berupaya memberikan jaminan keamanan bagi kelompok minoritas di Suriah, proses pemulihan negara tersebut masih dibayangi kekerasan sektarian.

Sejumlah kelompok bersenjata yang terikat dengan pemerintahan baru juga menghadapi tuduhan atas pembunuhan ratusan warga sipil dari komunitas minoritas Druze, Alawite, dan Kurdi.

(Riza Aslam Khaeron)