Muktamar ke-35 NU: Simak Jadwal dan Lokasinya

Logo Muktamar NU ke-35. (Dok. NU)

Muktamar ke-35 NU: Simak Jadwal dan Lokasinya

Riza Aslam Khaeron • 21 August 2026 17:12

Jakarta: Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) merupakan forum permusyawaratan tertinggi dalam organisasi NU yang diselenggarakan untuk membahas berbagai persoalan organisasi serta menetapkan arah kebijakan NU ke depan.

Forum ini dilaksanakan setiap lima tahun sekali dan telah menjadi momentum penting bagi warga NU dalam menentukan kepengurusan organisasi untuk periode selanjutnya.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan kembali menyelenggarakan Muktamar ke-35 NU pada bulan Agustus 2026. Keputusan mengenai waktu dan tempat pelaksanaan Muktamar NU telah ditetapkan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah yang digelar di lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Salemba, Jakarta Pusat, pada Selasa, 7 Juli 2026.

Tidak hanya telah menentukan waktu dan tempat pelaksanaan, sejauh ini PBNU telah mempersiapkan 85 persen rangkaian pelaksanaan acara. Bersamaan dengan hal tersebut, tema dan logo dari Muktamar ke-35 NU uga telah resmi diluncurkan.

Berikut ini adalah rincian pelaksanaan Muktamar ke-35 NU:

Waktu dan Tempat Muktamar NU

Berdasarkan informasi dari situs resmi tambakberas.id, Muktamar ke-35 NU yang merupakan forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Pemilihan Tambakberas sebagai tempat pelaksanaan lantaran Jombang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban NU. Di sanalah tanah kelahiran pendiri dan penggerak NU, yaitu Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah. Pelaksanaan Muktamar NU yang awalnya direncanakan pada 1–5 Agustus 2026 diundur menjadi 27–31 Agustus 2026.

Maka dari itu, pelaksanaan Muktamar ke-35 NU akan diselenggarakan selama lima hari di Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Tema dan Logo Resmi Muktamar ke-35 NU


Logo Muktamar NU ke-35. (Dok. NU)

Dalam rapat koordinasi Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU yang digelar di Aula Kantor Pusat Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 16 Juli 2026, panitia pelaksana telah meluncurkan tema dan logo Muktamar ke-35 NU.

Muktamar NU mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”. Tema tersebut mencerminkan komitmen Nahdlatul Ulama untuk menjaga kehormatan organisasi sekaligus meningkatkan kontribusinya dalam memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.
 
Selain tema, PBNU juga merilis logo resmi Muktamar ke-35 NU beserta makna di balik setiap elemen visualnya, berikut nilai filosofis logo tersebut menurut NU:

1. Bentuk Angka 3 dan 5 yang Terhubung

Lengkungan yang membentuk angka 3 dan 5 dirancang menyerupai dua lingkaran yang saling terhubung. Bentuk tersebut menjadi simbol kesinambungan, persatuan, dan harmoni dalam perjalanan NU.

2. Elemen Lingkaran

Bentuk lingkaran tidak mempunyai titik awal maupun akhir. Filosofi tersebut menggambarkan perjuangan NU yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semangat dakwah, pendidikan, serta pengabdian kepada umat diwariskan sebagai mata rantai perjuangan para ulama. Bentuk melingkar sekaligus menggambarkan prinsip merangkul dan mempersatukan, bukan memisahkan.

Keseluruhan bentuk lingkaran menjadi simbol Muktamar ke-35 NU sebagai ruang untuk mempersatukan berbagai elemen NU.

3. Garis Lengkung Dinamis

Lengkungan pada logo juga memberikan kesan dinamis dan bergerak maju. Makna tersebut menggambarkan NU sebagai organisasi yang mampu berkembang mengikuti perubahan zaman, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah serta tradisi pesantren yang menjadi fondasinya.

4. Siluet Menara Masjid Tambakberas

Pada bagian tengah logo terdapat ilustrasi menara berkubah emas yang merupakan ikon Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Menara tersebut menegaskan identitas Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU sekaligus menjadi simbol pusat ilmu, dakwah, dan peradaban Islam.

Penempatan menara tepat di pusat logo juga memiliki makna tersendiri. Posisi tersebut menegaskan bahwa pesantren tetap menjadi poros peradaban NU, sekaligus mengingatkan hubungan historis NU dengan tradisi pendidikan pesantren di Indonesia. (Yaumil Tianri Rahmi)

(Riza Aslam Khaeron)