Gubernur Luthfi Pastikan Difabel Dapat Hak Kerja

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat Rembug Pembangunan Jateng 2026 Wilayah Subosukowonosraten di Pendopo Kabupaten Boyolali. (Dokumentasi/ Istimewa)

Gubernur Luthfi Pastikan Difabel Dapat Hak Kerja

Silvana Febiari • 2 June 2026 16:56

Boyolali: Akses kerja bagi penyandang disabilitas masih menyisakan tantangan. Mulai dari keterbatasan penerimaan di perusahaan hingga minimnya dukungan mobilitas dan permodalan usaha. 

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan penyandang disabilitas tidak boleh hanya menjadi objek pelatihan tanpa kepastian akses kerja dan pemberdayaan ekonomi. Penyandang disabilitas harus mendapat kesempatan yang setara tanpa diskriminasi, baik dalam dunia kerja maupun pembangunan daerah.

“Jangan sampai ada kelompok disabilitas yang tersisihkan,” tegas Luthfi dalam Rembug Pembangunan Jateng 2026 Wilayah Subosukowonosraten di Pendopo Kabupaten Boyolali, Selasa, 2 Juni 2026. 
 


Menurut Luthfi, regulasi afirmasi ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas telah tersedia dan harus dijalankan oleh perusahaan maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). “Kalau BUMD di Jawa Tengah afirmasinya 2 persen, sedangkan perusahaan 1 persen,” ujarnya.

Luthfi juga meminta Dinas Tenaga Kerja berkoordinasi dengan Kecamatan Berdaya di seluruh kabupaten dan kota. Langkah ini dilakukan agar program tersebut dapat menjadi ruang pemberdayaan bagi kelompok disabilitas dan perempuan rentan.

Luthfi menegaskan pemberdayaan penyandang disabilitas harus menghasilkan dampak yang nyata. Program tersebut tidak boleh berhenti pada pelatihan semata, tetapi harus berlanjut dengan akses pekerjaan, peluang ekonomi, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Luthfi memastikan kelompok difabel memperoleh kesempatan yang setara untuk bekerja, berwirausaha, dan berpartisipasi dalam pembangunan Hal tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan.


Rembug Pembangunan Jateng 2026 Wilayah Subosukowonosraten di Pendopo Kabupaten Boyolali. (Dokumentasi/ Istimewa)

Sebelumnya, Perwakilan Forum Komunikasi Difabel Boyolali, Sri Setyaningsih, mengusulkan sejumlah program yang dinilai dapat memperkuat kemandirian penyandang disabilitas. Mulai dari pembaruan data sosial, akses ketenagakerjaan, dukungan permodalan UMKM, pelibatan dalam koperasi, wisata ramah disabilitas, hingga penguatan sarana pelatihan.

Ia menilai penyandang disabilitas membutuhkan pendekatan khusus dalam pendataan sosial. Menurutnya, tidak semua difabel masuk kategori miskin, tetapi mereka merupakan kelompok yang rentan terhadap persoalan kesehatan maupun ekonomi.

“Tidak semua disabilitas itu miskin, tapi disabilitas itu rentan. Rentan kesehatan juga rentan ekonomi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejumlah fasilitas yang kerap dianggap sebagai aset oleh masyarakat umum justru menjadi kebutuhan dasar bagi penyandang disabilitas. Rumah berlantai keramik, kendaraan roda tiga, hingga sanggar pelatihan merupakan bagian dari penunjang mobilitas dan produktivitas mereka.

Selain itu, Sri meminta pemerintah mendorong perusahaan agar lebih terbuka menerima tenaga kerja disabilitas. Menurutnya, masih banyak perusahaan yang membatasi penerimaan pekerja difabel dan hanya menerima kategori disabilitas tertentu.

“Perusahaan-perusahaan penerima kami itu setengah-setengah. Yang seperti saya sudah tidak diterima karena dianggap kurang produktif,” katanya.

Ia juga mengusulkan dukungan permodalan bagi UMKM disabilitas yang selama ini telah menghasilkan berbagai produk, mulai dari usaha jahit, kuliner, hingga pertukangan. Menurutnya, keterbatasan modal masih menjadi kendala utama pengembangan usaha. 


Rembug Pembangunan Jateng 2026 Wilayah Subosukowonosraten di Pendopo Kabupaten Boyolali. (Dokumentasi/ Istimewa)


Tak hanya itu, Sri meminta penyandang disabilitas dilibatkan dalam Koperasi Merah Putih agar memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Pada sektor pariwisata, ia berharap setiap destinasi wisata di Jawa Tengah menerapkan standar aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Seperti jalur kursi roda, toilet khusus, serta petugas yang memahami pelayanan ramah difabel.

“Kami disabilitas dan keluarga juga berhak untuk berpariwisata. Ketika kami berwisata, kami juga ikut menggerakkan ekonomi daerah,” tuturnya.

Sri juga menyoroti persoalan transportasi yang masih menjadi hambatan besar bagi penyandang disabilitas untuk mengakses pelatihan maupun aktivitas produktif. Karena itu, ia mengusulkan adanya dukungan mobil siaga khusus bagi komunitas difabel.

“Transportasi adalah tembok tertinggi bagi kami,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sri menyampaikan bahwa Sanggar Krisnapatra Boyolali telah melatih sekitar 600 penyandang disabilitas sejak 2021. Dari jumlah tersebut, sebanyak 180 orang berhasil disalurkan sebagai pekerja tetap di berbagai perusahaan.

Namun, sanggar tersebut masih membutuhkan dukungan agar dapat berkembang menjadi Balai Latihan Kerja (BLK) komunitas yang terstandarisasi.

(Silvana Febiari)