Ilustrasi perdagangan saham di Wall Stree. Foto: Xinhua/Liu Yanan.
Wall Street Tebar Cuan di Tengah Harapan Pembicaraan Gencatan Senjata Timteng
Husen Miftahudin • 15 April 2026 08:11
New York: Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup lebih tinggi pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), didorong oleh harapan lebih banyak pembicaraan gencatan senjata di Timur Tengah (Timteng) ditambah laporan inflasi produsen AS yang tercatat jauh lebih baik dari perkiraan.
Mengutip Investing.com, Rabu, 15 April 2026, indeks S&P 500 naik 1,2 persen dan ditutup pada 6.966,51 poin, 12 poin di bawah rekor penutupan tertingginya. Pada perdagangan Senin, 13 April 2026, indeks tersebut menghapus semua kerugian sejak dimulainya perang Iran.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik dua persen menjadi 23.639,08 poin, dan indeks Dow Jones Industrial Average yang berisi saham-saham unggulan bertambah 0,7 persen menjadi 48.535,81 poin.
| Baca juga: Wall Street Pulih, Naik 1% |

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Indeks harga produsen naik 0,5%
Meskipun konflik Timur Tengah mendominasi berita utama, perhatian pada perdagangan Selasa juga tertuju pada data inflasi. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, indeks harga produsen (PPI) pada Maret 2026 naik 0,5 persen (mtm) dan 4,0 persen (yoy). Angka ini di bawah perkiraan konsensus sebesar 1,1 persen dan 4,6 persen secara berturut-turut. PPI inti naik 0,1 persen (mtm) dan 3,8 persen (yoy).
Peningkatan angka utama selama 12 bulan merupakan yang terbesar sejak Februari 2023, terutama didorong oleh lonjakan sebanyak 8,5 persen (mtm) pada indeks harga energi.
Data PPI agak mirip dengan data indeks harga konsumen (CPI) pada Maret yang dilaporkan pada Jumat lalu, karena kedua laporan tersebut menunjukkan dampak besar dari melonjaknya harga minyak akibat perang Iran, tetapi tidak terlalu besar pada angka inti, yang tidak termasuk makanan dan energi.
Dampak perang terhadap proyeksi ekonomi juga terlihat dalam data global pada Selasa. Menurut prospek ekonomi dunia terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan global kini diproyeksikan melambat menjadi 3,1 persen tahun ini dan 3,2 persen pada 2027.