Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
IHSG Hari Ini Turun 1,89% ke 7.164, Dipicu Sentimen Global dan Minyak
Ade Hapsari Lestarini • 26 March 2026 16:33
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini 'terdampar' ke zona merah. IHSG terlalu 'nyaman' berada di jalur merah sejak perdagangan pagi.
Berdasarkan data RTI, Kamis, 26 Maret 2026, IHSG sore terpental 138,029 poin atau setara 1,89 persen ke posisi 7.164. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 7.313. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 7.152 dan tertinggi di posisi 7.323.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 31,144 miliar senilai Rp32,348 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12,620 triliun dengan frekuensi sebanyak 1.725.785 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 292 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 380 saham melemah, dan 148 saham lainnya stagnan.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
Pasar mencermati upaya gencatan senjata AS-Iran
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya menyarankan investor untuk melakukan average up dengan penuh perhitungan dan menerapkan money-management dengan disiplin.
Di sisi lain, dari mancanegara, AS mengajukan proposal damai 15 poin, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan dismantling fasilitas nuklir Iran. Trump menyebut negosiasi berjalan, namun Iran menegaskan tidak ada pembicaraan, dan tidak akan menghentikan perang sebelum syaratnya terpenuhi.
Iran menuntut penghentian penuh perang (bukan sekadar ceasefire), pengakuan atas kontrol Selat Hormuz, pencabutan sanksi, kompensasi, serta kebebasan program militer. Komunikasi masih berlangsung via mediator seperti Pakistan, Turki, dan Mesir, namun gap kedua pihak masih sangat jauh.
"Pasar berada dalam kondisi “hope vs reality". Setiap headline positif memicu risk-on, tetapi langsung diimbangi denial dari Iran,'" ujar Liza.
Sementara itu, ekspektasi suku bunga global berubah drastis, yaitu pasar kini tidak lagi pricing in, The Fed akan melakukan pemangkasan pada tahun ini, dari sebelumnya ekspektasi dua kali pemangkasan.
BofA menyatakan harga minyak saat ini sudah berada di zona hawkish bagi The Fed. Apabila minyak WTI bertahan di USD80-USD100 per barel, maka risiko rate hike meningkat. Namun jika shock bersifat sementara dan menekan konsumsi, The Fed dapat kembali dovish.