Ketegangan dengan Iran Memuncak, AS Perluas Kehadiran Militer di Timur Tengah

Kapal induk USS Abraham Lincoln. (Anadolu Agency)

Ketegangan dengan Iran Memuncak, AS Perluas Kehadiran Militer di Timur Tengah

Willy Haryono • 28 January 2026 10:30

Washington: Amerika Serikat (AS) secara signifikan memperluas kehadiran militernya di Timur Tengah menyusul meningkatnya ketegangan dengan Iran, menurut laporan sejumlah media AS. Meski Presiden Donald Trump menyatakan harapannya agar penggunaan kekuatan fisik tidak diperlukan, sejumlah aset tempur strategis kini telah diposisikan dalam jarak serang yang menjangkau wilayah Iran.

Gugus tugas kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan telah memasuki wilayah tanggung jawab US Central Command (CENTCOM) di Samudra Hindia bagian barat.

Penempatan tersebut mencakup sejumlah kapal perusak rudal yang dilengkapi peluru kendali Tomahawk. Pejabat Pentagon menyebutkan kapal induk itu siap menjalankan operasi dalam waktu satu hingga dua hari jika diperintahkan oleh Gedung Putih.

Selain kekuatan laut, militer AS juga mengirimkan sekitar satu lusin jet tempur F-15E tambahan ke kawasan untuk memperkuat kemampuan serangan udara. Untuk mengantisipasi potensi serangan balasan berupa rudal jarak pendek dan menengah dari Iran, Washington turut mengerahkan sistem pertahanan udara tambahan, termasuk baterai Patriot dan THAAD.

“Kami mengirimkan banyak kapal ke arah sana hanya untuk berjaga-jaga. Saya lebih suka tidak melihat apa pun terjadi, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat ketat,” ujar Trump setibanya dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, seperti dikutip Anadolu, Rabu, 28 Januari 2026.

Di tengah pengerahan kekuatan tersebut, Washington mengisyaratkan tetap terbuka terhadap jalur diplomasi jika Teheran bersedia melakukan kontak. Laporan menyebutkan adanya pertukaran pesan informal antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus AS Steve Witkoff, meskipun hingga kini belum terbentuk saluran komunikasi resmi.

Pada tingkat regional, respons terhadap langkah AS bervariasi. Israel mempertahankan status waspada maksimum dan terus berkoordinasi dengan CENTCOM, termasuk dengan Laksamana Brad Cooper, untuk memperkuat kerja sama pertahanan. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara, darat, maupun perairannya digunakan untuk tindakan militer terhadap Iran.

Di sisi lain, Pemimpin Hezbollah Naim Qassem memperingatkan bahwa kelompoknya tidak akan bersikap netral apabila terjadi konfrontasi langsung antara AS dan Iran. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan perluasan kehadiran militer AS di kawasan tersebut.

Otoritas internasional mendesak seluruh pihak menahan diri guna mencegah eskalasi lebih luas, mengingat penilaian intelijen menunjukkan kondisi internal Iran saat ini berada pada posisi paling rentan sejak Revolusi 1979. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Iran Tegaskan Siap Hadapi Konflik Militer, Namun Lebih Prioritaskan Dialog

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)