Audiensi dengan Kemendikdasmen, AMRI Kenalkan Tokoh Pembaharu Pendidikan Abad 18

Angkatan Muda Rifa'iyah Indonesia (AMRI) audiensi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dok. Istimewa

Audiensi dengan Kemendikdasmen, AMRI Kenalkan Tokoh Pembaharu Pendidikan Abad 18

Achmad Zulfikar Fazli • 30 July 2026 20:24

Jakarta: Angkatan Muda Rifa'iyah Indonesia (AMRI) mengenalkan sosok Pahlawan Nasional KH Ahmad Rifa'i sebagai tokoh pembaru pendidikan yang pemikiran dan gagasan melampaui zamannya dalam audiensi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Pendiri gerakan Rifa'iyah yang lahir di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada 1200 H/ 1786 M itu meletakkan fondasi pendidikan yang menekankan penguasaan ilmu, akhlak, dan moderasi pendidikan jauh sebelum konsep tersebut dikenal luas.

Hal itu disampaikan Ketua Umum PP Angkatan Muda Rifa'iyah Indonesia (AMRI), Dr Abdul Kholiq Syafi'i, saat bertemu Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Biyanto, di Kompleks Kemendikdasmen, Jakarta. Kholiq mengatakan meski istilah moderasi belum dikenal pada masa KH Ahmad Rifa'i, ajaran yang diwariskannya telah mencerminkan nilai-nilai moderasi pendidikan.

Menurut dia, KH Ahmad Rifa'i mampu mengolah khazanah keilmuan Islam yang bersumber dari dunia Muslim maupun berbagai literatur lainnya ke dalam bahasa dan budaya lokal dalam bentuk buku-buku yang ditulis, sehingga lebih mudah dipahami masyarakat. KH Ahmad Rifa'i juga melahirkan buku terkait pembaharu pendidikan.

"Sunan Kalijaga dikenal karena mengislamkan masyarakat yang belum Islam, sementara Kiai Ahmad Rifa'i dikenal karena memurnikan ajaran Islam serta membaharui konsep pendidikan dengan menekankan pentingnya guru memiliki kemampuan mengajar yang mumpuni dan integritas moral dan etika di tengah masyarakat yang masih dipengaruhi praktik-praktik sinkretisme," ujar Kholiq, Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.

Dia menjelaskan salah satu pembaruan pendidikan yang diperkenalkan KH Ahmad Rifa'i adalah penekanan agar setiap santri menjadi pribadi yang alim dan adil. Alim dimaknai memiliki penguasaan ilmu dan skill mengajar yang mumpuni sekaligus ilmu pengetahuan umum termasuk sains, sedangkan adil berarti menjaga dan menjunjung tinggi integritas moral dan etika dengan menjauhi dan tidak melakukan tindakan yang mendegradasi moral dan etika sebagai guru yang merupakan panutan siswa.

Selama hidupnya, KH Ahmad Rifa'i menulis sekitar 60 kitab yang membahas berbagai bidang, mulai dari, ekonomi, hukum hingga pendidikan. Salah satu buku monumental karyanya terkait pembaruan pendidikan adalah kitab Bayan.

Pemikiran-pemikiran KH Ahmad Rifa'i ini membuat pemerintah kolonial Belanda menganggapnya sebagai tokoh yang berbahaya sehingga aktivitasnya, termasuk para pengikutnya, terus diawasi.

"Setiap santri yang sanad keilmuannya bersambung kepada Kiai Rifa'i hingga sekarang diwajibkan mengkhatamkan 60 kitab karya beliau. Tujuannya agar lahir guru-guru yang mahir yang mendidik dan mengajar murid dengan berlandaskan akhlak alim serta moral yang beretika adil, sebagaimana wasiat beliau," ujar Kholiq.


Angkatan Muda Rifa'iyah Indonesia (AMRI) audiensi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dok. Istimewa

Menurut Kholiq, Rifa'iyah telah mengelola sekitar 250 pesantren yang menaungi lembaga pendidikan dari jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA di berbagai daerah, mulai dari Sumatra hingga Sulawesi Utara.

Oleh karena itu, AMRI berharap sosok KH Ahmad Rifa'i semakin dikenal pelajar Indonesia. Menurut Kholiq, gagasan pendidikan yang diwariskan KH Ahmad Rifa'i lahir jauh sebelum era modern dan layak ditempatkan sejajar dengan tokoh-tokoh besar pendidikan nasional, seperti Ki Hajar Dewantara, yang lahir setelahnya.

"Masih banyak mutiara-mutiara pemikiran dan khazanah ilmu Kiai Rifa'i yang perlu dikenalkan lebih luas karena ajarannya tetap relevan dengan tantangan zaman sekarang," ujar Kholiq.

Sementara itu, Biyanto mengapresiasi kunjungan audiensi AMRI. Dia mengatakan hasil audiensi tersebut akan disampaikan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti sekaligus Wakil Menterinya.

"Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Abdul Mu'ti) terbuka untuk menerima undangan mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan Rifa'iyah dan menerima masukan," ujar Biyanto.

(Achmad Zulfikar Fazli)