Ilustrasi: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. ANTARA/Ananto Pradana
Ancaman El Nino Kuat di Jatim, Masyarakat Diminta Hentikan Pembakaran Lahan
Whisnu Mardiansyah • 13 August 2026 14:24
Surabaya: Stasiun Klimatologi Jawa Timur milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan El Nino yang terdeteksi dalam kekuatan tingkat tinggi. Kondisi iklim demikian dinilai berpotensi menyusutkan volume presipitasi dan membuka peluang meluasnya kebakaran hutan serta lahan.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jatim Linda Fitrotul mengemukakan, klasifikasi kuat pada El Nino saat ini mengacu pada pantauan anomali suhu permukaan laut di kawasan Timur Samudera Pasifik, yang angkanya melampaui lebih dari dua derajat Celsius.
Linda menegaskan, masyarakat perlu mencermati risiko berkurangnya curah hujan serta kemarau yang lebih ekstrem. Rentang hari tanpa hujan yang memanjang, ancaman ketersediaan air bagi lahan pertanian dan keperluan rumah tangga, serta kemungkinan melonjaknya kasus karhutla menjadi konsekuensi yang harus diantisipasi.
"Musim kemarau akan terasa lebih kering, hari tanpa hujan jadi panjang, potensi kekeringan meningkat, air untuk sawah dan masyarakat menyusut, dan risiko kebakaran hutan-lahan bertambah," terang Linda di Kabupaten Malang, seperti dilansir Antara, Kamis, 13 Agustus 2026.
Lebih lanjut, Linda menjelaskan faktor lain yang memperkuat kondisi tersebut. Anomali suhu muka laut di Samudera Hindia sisi barat dan timur turut menjadi pemicu.
Berdasarkan nilai Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada angka positif 0,63, terjadi pergerakan massa uap air yang menjauh dari wilayah barat Indonesia menuju pesisir timur Afrika. Gabungan dinamika atmosfer itu, menurut Linda, pada akhirnya menyebabkan periode kemarau di Nusantara berlangsung lebih kering dibandingkan siklus normalnya.

BPBD Kabupaten Klaten melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Rabu, 12 Agustus 2026. Foto: BPBD Kabupaten Klaten.
BMKG Stasiun Klimatologi Jatim memproyeksikan musim kemarau di Jawa Timur akan bertahan sampai memasuki fase awal tahun 2027. Menyikapi prakiraan tersebut, lembaga itu mengimbau warga agar menekan kebiasaan yang dapat menyulut api. Dua perilaku yang disebut secara khusus ialah melemparkan putung rokok ke area terbuka dan membakar tumpukan sampah.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak membersihkan kebun atau lahan pertanian dengan cara membakar. Langkah antisipasi lain yang tak kalah penting, tutur Linda, ialah penggunaan air secara hemat dan terukur di tengah ancaman kekeringan yang sedang melanda.