Klaim Kuasai Selat Hormuz, Trump Sebut AS Bisa Jadi Penjajah di Iran

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Klaim Kuasai Selat Hormuz, Trump Sebut AS Bisa Jadi Penjajah di Iran

Willy Haryono • 7 November 2026 14:26

Florida: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut negaranya mungkin saja bisa sebagai “penjajah” di Iran, seraya mengklaim Washington saat ini menguasai Selat Hormuz dan mengambil minyak dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah melalui jalur perairan strategis tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan setelah berpidato di sebuah fasilitas NASA di Florida pada Jumat, 6 November 2026.

Dalam pernyataannya, Trump membandingkan konflik AS-Iran saat ini dengan perang Rusia-Ukraina. Ia mengklaim pertempuran antara Moskow dan Kyiv telah menewaskan 25.000 orang sepanjang Oktober.

“Itulah yang disebut perang,” kata Trump, merujuk pada konflik Rusia-Ukraina.

Menurut Trump, konflik dengan Iran yang kini memasuki bulan kesembilan tidak dapat disebut sebagai perang karena dalam beberapa bulan terakhir “tidak ada seorang pun yang terluka."

“Yang kami lakukan mungkin hanya menjadi penjajah. Kami bisa saja menjadi penjajah,” ujarnya, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Trump kemudian kembali mengklaim AS mengendalikan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global. “Kami mengendalikan Selat Hormuz. Saat ini kami mengambil lebih banyak minyak dibandingkan kapan pun dalam sejarah Selat Hormuz,” kata Trump.

Iran vs AS-Israel

Ketika ditanya mengenai laporan serangan militer AS di dekat Pulau Qeshm, Iran, pada Jumat, Trump awalnya menolak memberikan penjelasan. Namun, ia mengakui bahwa militer AS melakukan operasi terbatas.

“Saya tidak ingin membicarakannya. Kami melakukan serangan-serangan kecil,” ujarnya.

Trump menambahkan bahwa pasukan Iran telah membangun instalasi pertahanan antipesawat yang kemudian dihancurkan militer AS dalam hitungan menit.

Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah Trump mengonfirmasi serangan AS terhadap fasilitas pertahanan udara Iran di Pulau Qeshm. Ia saat itu menggambarkan operasi tersebut sebagai serangan kecil, bukan dimulainya kembali perang berskala penuh.

Iran menolak klaim Washington mengenai penguasaan Selat Hormuz. Teheran bersikeras masih memegang kendali strategis atas jalur perairan tersebut dan tidak akan membukanya kembali sebelum persyaratan yang ditetapkan Iran dipenuhi.

AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari. Gencatan senjata tercapai pada April, disusul nota kesepahaman pada Juni yang bertujuan mencapai kesepakatan perdamaian. Namun, perundingan kedua pihak belum menghasilkan penyelesaian akhir.

Baca juga: Iran Antisipasi Serangan Baru di Tengah Laporan Penarikan Kapal AS dari Kawasan

(Willy Haryono)