#OnThisDay 8 Februari: Tragedi Kelam Bumi Hangus Kota Banjarmasin

ilustrasi medcom.id

#OnThisDay 8 Februari: Tragedi Kelam Bumi Hangus Kota Banjarmasin

Whisnu Mardiansyah • 8 February 2026 10:18

Jakarta: Asap hitam membumbung di langit kota dengan kobaran api dari gudang-gudang di tepi Sungai Barito, merambat ke pelabuhan, kantor, hingga instalasi vital. Banjarmasin terbakar hebat pada malam 8 Februari 1942 sebuah peristiwa yang menjadi babak kelam dalam sejarah.

Peristiwa itu kerap dikaitkan dengan masuknya Jepang ke Kalimantan Selatan. Namun, sejarah mencatat kenyataan yang berbeda. Api yang melalap Banjarmasin adalah hasil strategi bumi hangus (scorched earth) yang dijalankan pemerintahan kolonial Belanda, beberapa hari sebelum mereka mundur dari kota tersebut.

Sejak pecahnya Perang Pasifik akhir 1941, Hindia Belanda berada dalam ancaman serius. Setelah Balikpapan jatuh ke tangan Jepang pada akhir Januari 1942, posisi Banjarmasin sebagai simpul transportasi dan perdagangan pun genting. Menyadari pertahanan yang rapuh, pasukan Belanda mengambil keputusan pahit menghancurkan seluruh fasilitas strategis agar tak bisa dimanfaatkan musuh.

Pasukan khusus perusak mulai menyiapkan bahan peledak dan bakar. Sasaran mereka adalah pelabuhan, gudang, kantor listrik, instalasi komunikasi, dan bangunan penting lainnya.
 


Pada malam 8 Februari 1942, ledakan pertama mengguncang. Gudang-gudang bahan bakar di pelabuhan meledak dan terbakar. Api dengan cepat menjalar, dibantu angin dan dominasi bangunan kayu. Jembatan utama dihancurkan, kantor listrik dibakar, menerjunkan kota ke dalam kegelapan.

Bagi warga sipil, malam itu adalah mimpi buruk. Tidak ada peringatan atau rencana evakuasi yang jelas. Kepanikan meluas, orang-orang berlarian menyelamatkan diri sambil membawa barang seadanya.

Kekosongan kekuasaan pun terjadi. Di tengah kobaran api, penjarahan melanda sejumlah gudang dan toko. Aparat kolonial mulai meninggalkan pos mereka, membuat kota seolah tak bertuan.
 

Pasukan Jepang baru memasuki Banjarmasin beberapa hari setelah peristiwa pembumihangusan itu. Mereka mendapati kota yang telah menjadi puing, infrastruktur hancur oleh tangan Belanda sendiri. Meski demikian, pendudukan tetap dilakukan dan membuka babak baru penderitaan di bawah kekuasaan Jepang.

Selama bertahun-tahun, ingatan kolektif sering menyederhanakan tragedi ini sebagai “pembakaran oleh Jepang”. Padahal, api berasal dari kebijakan kolonial Belanda sebuah keputusan militer yang mengorbankan kota dan warganya.

Tragedi bumi hangus meninggalkan dampak jangka panjang. Infrastruktur lumpuh, ekonomi terpuruk, dan masyarakat harus membangun kembali hidup dari puing. Lebih dari itu, peristiwa ini menorehkan luka psikologis yang diwariskan lintas generasi.

Kini, lebih dari delapan dekade berlalu, api itu telah lama padam. Namun, ingatan tentang malam ketika Banjarmasin menjadi lautan api tetap hidup. Ia menjadi pengingat bahwa dalam perang, seringkali warga sipil menjadi korban paling sunyi di antara pergulatan kekuasaan.


*Pengerjaan artikel berita ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)