Gelombang Panas Eropa Tewaskan Sedikitnya 18 Orang di Prancis

Gelombang panas ekstrem di Eropa menewaskan sedikitnya 18 orang dan memecahkan rekor suhu di Prancis. (Anadolu Agency)

Gelombang Panas Eropa Tewaskan Sedikitnya 18 Orang di Prancis

Willy Haryono • 23 June 2026 14:56

Paris: Sedikitnya 18 orang meninggal dunia akibat gelombang panas yang melanda Prancis dan sejumlah negara Eropa.

Dari total tersebut, seperti dikutip dari The Korea Herald, Selasa, 23 Juni 2026, terdapat dua anak berusia 2 dan 4 tahun yang ditemukan meninggal di dalam mobil keluarga di luar rumah mereka di wilayah Carpentras, Prancis tenggara.

Gelombang panas tersebut memecahkan rekor suhu di sejumlah kota pada Senin, 22 Juni 2026. Suhu di Bordeaux mencapai 41,9 °C, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Agustus tahun lalu, sementara Poitiers mencatat suhu 41,2 °C, tertinggi sejak 1947.

Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan di berbagai negara Eropa. Kota San Sebastian di Spanyol utara diperkirakan mencapai suhu 40 °C, sedangkan Paris diproyeksikan mencatat suhu tertinggi untuk bulan Juni dengan 38,4 °C.

Tiga lansia berusia 80–95 tahun dilaporkan meninggal akibat gangguan kesehatan yang dipicu cuaca panas di wilayah Bordeaux. Selain itu, 13 orang dilaporkan tenggelam antara Minggu dan Senin saat berusaha mendinginkan diri di perairan terbuka.

Juru bicara Dinas Keamanan Sipil Prancis, Jerome Boulanger, mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat berenang. "Berenanglah hanya di tempat yang diawasi," katanya menyusul meningkatnya jumlah korban tenggelam selama periode gelombang panas.

Menurut peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London, Clair Barnes, fenomena ini dipicu pola atmosfer yang dikenal sebagai Omega Block. Pola tersebut menarik udara panas dari Gurun Sahara ke Eropa dan bergerak sangat lambat sehingga menyebabkan suhu tinggi bertahan lebih lama.

Barnes mengatakan perubahan iklim memperparah gelombang panas dan badai, sehingga suhu menjadi lebih tinggi dan curah hujan semakin ekstrem. Organisasi Meteorologi Dunia sebelumnya melaporkan bahwa laju pemanasan di Eropa lebih dari dua kali rata-rata global.

Di Inggris, badan meteorologi Met Office memperingatkan suhu dapat melampaui 39 °C dalam beberapa hari ke depan. Seorang warga London, Lewis Jennings, menggambarkan kondisi tersebut dengan mengatakan, "Suhu 36 derajat akan terasa sangat menyiksa."

Sementara itu, Italia menetapkan peringatan merah gelombang panas di 12 kota. Perusahaan utilitas di Turin juga menambah pekerja dan generator listrik untuk mengantisipasi gangguan pasokan akibat meningkatnya penggunaan listrik selama cuaca panas ekstrem.

Gelombang panas turut berdampak pada satwa liar. Romaine de Jaegere, pendiri pusat rehabilitasi satwa liar di Belgia, mengatakan suhu atap bangunan dapat mencapai 50–60 °C sehingga banyak burung memilih meninggalkan sarangnya.

Dalam tiga hari terakhir, pusat rehabilitasi tersebut menerima sekitar 150 hewan yang terdampak cuaca panas. (Keysa Qanita)

Baca juga:  Panas Ekstrem Eropa: Prancis Perketat Langkah Darurat dan Waspadai Korban Jiwa

(Willy Haryono)