Hari Ginjal Sedunia, Komunitas Pasien Cuci Darah Dorong Reformasi Layanan

Komunitas pasien cuci darah. Foto: Istimewa

Hari Ginjal Sedunia, Komunitas Pasien Cuci Darah Dorong Reformasi Layanan

Haufan Hasyim Salengke • 12 March 2026 18:15

Jakarta: Peringatan Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) pada Kamis kedua Maret, jadi momentum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI). Yakni, untuk mendorong penguatan edukasi mengenai berbagai pilihan terapi bagi pasien demi meningkatkan kualitas hidup dan keberlanjutan sistem jaminan kesehatan.

KPCDI mendorong momentum penting ini untuk meninjau kembali arah kebijakan layanan kesehatan ginjal di Indonesia. Hal ini sesuai dengan tema global “Kesehatan Ginjal untuk Semua: Merawat Manusia, Melindungi Bumi.

"Harapannya, setiap pasien mendapatkan gambaran utuh mengenai seluruh opsi terapi yang tersedia, baik itu HD, CAPD, maupun transplantasi. Edukasi yang lengkap memungkinkan pasien mengambil keputusan yang paling sesuai dengan kondisi fisik dan gaya hidup mereka," ujar Ketua Umum KPCDI, Tony Richard Samosir, dilansir dari Media Indonesia, Kamis, 2 Maret 2026.
 


Hal tersebut dinilai penting, supaya pasien tidak terjebak dalam layanan mesin cuci darah (Hemodialisis/HD). Mengingat, kondisi itu memicu pembengkakan anggaran BPJS Kesehatan yang tidak terkendali.

Tony mengutip data Indonesian Renal Registry (IRR) 2024 mencatat dari 136.793 pasien aktif dan 60.034 pasien baru, sebanyak 98% hanya menjalani terapi HD. Sementara itu, opsi terapi mandiri seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) baru mencakup 2%, dan angka transplantasi ginjal—yang secara medis dianggap sebagai solusi jangka panjang terbaik—masih berada di bawah 1%.

Tony memandang perlunya langkah kolaboratif antara pemerintah, tenaga medis, dan pemangku kepentingan. Terutama, untuk memberikan informasi yang lebih komprehensif kepada pasien sejak awal terdiagnosis.

Langkah diversifikasi terapi ini juga dipandang sebagai strategi strategis dalam menjaga stabilitas pembiayaan kesehatan nasional. Data menunjukkan beban biaya penyakit ginjal pada BPJS Kesehatan terus meningkat, dari Rp6,5 triliun pada 2019 menjadi Rp11 triliun pada 2024. Melalui penguatan program Home Dialysis (CAPD) dan perluasan akses transplantasi, tekanan terhadap kapasitas infrastruktur rumah sakit diharapkan dapat berkurang secara signifikan.

“Selama bertahun-tahun ketimpangan informasi terapi pengganti ginjal sangat minim. Bahkan banyak pasien baru mengenal CAPD atau transplantasi dari sesama pasien di komunitas, bukan dari tenaga medis atau sistem layanan kesehatan resmi,” kata Tony.


Komunitas pasien cuci darah. Foto: Istimewa

Selain aspek biaya, peningkatan kualitas hidup pasien tetap menjadi prioritas utama. Mengingat angka kematian pasien dengan gangguan ginjal yang masih cukup tinggi, KPCDI mendorong adanya penguatan pada sistem deteksi dini. Pasalnya, banyak pasien baru menyadari kondisi kesehatannya saat sudah memasuki stadium lanjut.

Melalui momentum ini, sinergi untuk mewujudkan layanan ginjal yang lebih adil dan merata diharapkan semakin kuat. Dengan akses informasi yang transparan dan pilihan terapi yang beragam, pasien diharapkan tidak hanya menjalani pengobatan, tetapi juga mampu kembali produktif dan memiliki harapan hidup yang lebih baik.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)