Trump Sebut Penyatuan Irlandia dan Irlandia Utara Solusi Historis

Presiden AS Donald Trump dalam kunjungan ke Irlandia pada Minggu, 13 September 2026. (EPA-EFE)

Trump Sebut Penyatuan Irlandia dan Irlandia Utara Solusi Historis

Willy Haryono • 14 September 2026 08:53

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan dukungannya terhadap penyatuan Irlandia dan Irlandia Utara saat melakukan kunjungan ke Dublin pada Minggu, 13 September 2026.

Dikutip dari Yeni Safak, Trump menyebut penyatuan kedua wilayah tersebut sebagai salah satu solusi historis paling natural, seraya mengklaim banyak pihak sepakat dengan gagasan tersebut.

“Saya selalu mencintai rakyat Irlandia. Menurut saya, dengan adanya Irlandia Utara dan Irlandia, salah satu hal yang paling natural adalah menyatukan keduanya,” kata Trump kepada awak media..

Trump bahkan mengatakan dirinya akan senang melihat terwujudnya Irlandia bersatu dan menyiratkan bahwa proses penyatuan tersebut “bisa saja terjadi sekarang”.

Pernyataan Trump mendapat perhatian karena Irlandia Utara hingga kini masih menjadi bagian dari Britania Raya, sementara Republik Irlandia merupakan negara berdaulat yang terpisah.

Terbentur Kesepakatan Good Friday

Trump juga menanggapi pernyataan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham yang menegaskan bahwa referendum mengenai status Irlandia Utara tidak akan digelar tanpa adanya dukungan mayoritas di wilayah tersebut.

Menanggapi peringatan tersebut, Trump mengatakan, “Semua orang mengatakan itu, lalu berbagai hal tetap terjadi.”

Namun, Downing Street menegaskan ketentuan yang tercantum dalam Good Friday Agreement 1998 masih berlaku.

Kesepakatan tersebut mengatur bahwa referendum mengenai perubahan status Irlandia Utara dapat digelar apabila terdapat indikasi jelas bahwa mayoritas warga di wilayah tersebut menginginkan keluar dari Britania Raya dan bergabung dengan Republik Irlandia.

Dengan demikian, keputusan mengenai status konstitusional Irlandia Utara berada dalam kerangka proses politik dan hukum yang berlaku di wilayah tersebut.

Isu perubahan konstitusional juga tengah menjadi perhatian para pemimpin wilayah Britania Raya.

Menteri Utama Irlandia Utara Michelle O'Neill, Menteri Utama Skotlandia John Swinney, dan Menteri Utama Wales Rhun ap Iorwerth dijadwalkan bertemu di Cardiff pada Senin untuk membahas perubahan konstitusional serta peningkatan kerja sama yang tidak bergantung pada pemerintah di London.

Trump Soroti Eksplorasi Minyak Laut Utara

Dalam kunjungan yang sama, Trump turut menyoroti kebijakan energi Inggris.

Ia mengatakan Inggris harus menghentikan sejumlah proyek energi terbarukan dan meningkatkan eksploitasi cadangan bahan bakar fosil di kawasan Laut Utara, termasuk di lepas pantai Skotlandia.

Menurut Trump, eksploitasi minyak dan gas di Laut Utara diperlukan untuk mencegah kemerosotan ekonomi Inggris.

“Jika mereka membuka Laut Utara, Inggris akan menjadi kaya. Jika mereka tidak membuka Laut Utara, Inggris akan bangkrut,” kata Trump.

Trump juga mengklaim sejumlah perusahaan minyak internasional berulang kali mendorongnya untuk mendukung peningkatan pengeboran di Laut Utara. Ia turut mengkritik ketergantungan Inggris terhadap impor energi dari negara-negara seperti Norwegia dan Denmark.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump menggelar konferensi pers bersama Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin di Dublin.

Isu penyatuan Irlandia menjadi salah satu topik yang kemudian mendapat respons dari pejabat Inggris, mengingat perubahan status Irlandia Utara merupakan persoalan yang berkaitan langsung dengan konstitusi Britania Raya dan kesepakatan damai yang mengakhiri sebagian besar konflik sektarian di kawasan tersebut.

Baca juga: Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara Bahas Kemungkinan Berpisah dari Inggris

(Willy Haryono)