Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara Bahas Kemungkinan Berpisah dari Inggris

Bendera Britania Raya. (Anadolu Agency)

Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara Bahas Kemungkinan Berpisah dari Inggris

Willy Haryono • 13 September 2026 19:22

Cardiff: Pemimpin Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara dijadwalkan bertemu di Cardiff pada Senin besok untuk membahas kemungkinan perubahan konstitusional di masa mendatang, termasuk peluang berpisah dari Inggris atau Britania Raya (UK).

Dikutip dari Anadolu Agency, Minggu, 13 September 2026, pertemuan itu akan mempertemukan Menteri Utama Skotlandia John Swinney, Menteri Utama Wales Rhun ap Iowerth, dan Menteri Utama Irlandia Utara Michelle O'Neill.

Mereka diperkirakan menandatangani nota kesepahaman yang menyerukan peningkatan kerja sama di bidang ekonomi, energi, hubungan dengan Eropa, serta persoalan konstitusional.

Presiden Sinn Fein Mary Lou McDonald juga dijadwalkan menghadiri pertemuan di Cardiff tersebut.

Menurut laporan The Telegraph, kesepakatan yang dibahas akan menyatakan bahwa Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara memiliki hak untuk menentukan masa depan konstitusional masing-masing melalui proses demokratis.

Pertemuan ini berlangsung ketika perdebatan mengenai masa depan UK kembali menguat, terutama terkait kemungkinan kemerdekaan Skotlandia dan reunifikasi Irlandia.

Swinney mengatakan pada Minggu bahwa kepemimpinan politikus pro-kemerdekaan di Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara merupakan perkembangan penting dalam perdebatan mengenai masa depan UK.

"Untuk pertama kalinya, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara dipimpin oleh menteri utama yang pro-kemerdekaan," kata Swinney.

Menurut dia, perkembangan tersebut menunjukkan meningkatnya dukungan terhadap perubahan konstitusional.

Swinney mengatakan pembicaraan di Cardiff akan berfokus pada kerja sama antardaerah serta pendekatan masing-masing wilayah terhadap isu kemerdekaan.

Momentum Reunifikasi Irlandia

Pertemuan tersebut juga berlangsung setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyatakan dukungannya terhadap kemungkinan penyatuan Irlandia.

Saat menggelar konferensi pers bersama Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Dublin pada Sabtu kemarin, Trump mengatakan dirinya "akan senang" jika Irlandia bersatu.

"Saya akan senang melihatnya bersatu," kata Trump.

Menurut Trump, penyatuan Irlandia pada akhirnya akan terjadi sehingga tidak ada alasan untuk menundanya. "Saya melihatnya seperti ini: pada akhirnya itu akan terjadi. Sebaiknya terjadi sekarang," ujarnya.

Pernyataan Trump kembali menyoroti persoalan status konstitusional Irlandia Utara, yang hingga kini merupakan bagian dari UK.

Berdasarkan Good Friday Agreement 1998, referendum mengenai status konstitusional Irlandia Utara dapat digelar apabila terdapat indikasi bahwa mayoritas masyarakat kemungkinan akan memilih meninggalkan UK dan bergabung dengan Republik Irlandia.

London Tolak Referendum dalam Waktu Dekat

Di Skotlandia, persoalan referendum kemerdekaan juga masih menjadi perdebatan antara pemerintah Edinburgh dan London.

Perdana Menteri UK Andy Burnham sebelumnya mengatakan referendum kemerdekaan Skotlandia dapat digelar apabila terdapat "konsensus yang jelas" di Skotlandia mengenai perlunya referendum.

Namun, Burnham kemudian menulis surat kepada Swinney untuk menegaskan bahwa pemerintah UK tidak akan mendukung referendum kemerdekaan baru sebelum pemilihan umum berikutnya.

Burnham mengatakan saat ini belum terdapat konsensus yang cukup di Skotlandia untuk menggelar referendum baru.

Dia juga menyatakan tidak ada bukti jelas bahwa mayoritas masyarakat Irlandia Utara ingin meninggalkan UK.

Perdebatan tersebut menempatkan pemerintah UK di tengah tekanan politik yang semakin kompleks. Di satu sisi, London mempertahankan kerangka konstitusional yang ada dan menolak referendum baru tanpa dukungan publik yang jelas.

Di sisi lain, para pemimpin di sejumlah wilayah UK semakin terbuka membahas kemungkinan perubahan hubungan mereka dengan pemerintah pusat.

Pertemuan di Cardiff karena itu berpotensi menjadi momentum penting bagi koordinasi politik antara wilayah-wilayah yang memiliki agenda perubahan konstitusional, meski belum berarti bahwa ketiganya telah menyepakati langkah menuju pemisahan diri dari UK.

Baca juga: Inggris Tolak Dorongan Trump untuk Penyatuan Irlandia, Singgung Syarat Referendum

(Willy Haryono)