Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono. Foto: Metro TV/Dimas Chairullah.
Sambut 9 WNI, Menlu Tegaskan Kecam Israel Terkait Penyanderaan
Dimas Chairullah • 24 May 2026 17:31
Tangerang: Menteri Luar Negeri, Sugiono, resmi menyambut kepulangan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu sore, 24 Mei 2026. Kesembilan aktivis kemanusiaan tersebut berhasil dievakuasi setelah sempat diadang dan ditahan secara ilegal oleh militer Israel di perairan internasional pada 18 Mei lalu.
Sugiono menyampaikan rasa syukur mendalam atas keselamatan para relawan. Pemerintah Indonesia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada jajaran diplomatik negara sahabat, khususnya pemerintah Turkiye, Yordania, dan Mesir, yang bergerak cepat membantu proses diplomasi pembebasan di lapangan.
"Khususnya lagi, lebih khusus lagi, pemerintah Turkiye yang juga membantu penjemputan saudara-saudara kita ini dari Ashdod," ujar Sugiono di hadapan para awak media di area kedatangan Terminal 3 Soetta, Minggu, 24 Mei 2026.
Di sisi lain, Pemerintah Indonesia mengutuk keras aksi pembajakan dan penyanderaan yang dilakukan militer Israel terhadap kapal kemanusiaan sipil tersebut. Sugiono menegaskan bahwa pencegatan di perairan internasional merupakan pelanggaran fatal terhadap hukum laut internasional, mengingat misi GSF 2.0 bergerak murni untuk menyalurkan bantuan logistik kelaparan ke jalur Gaza, Palestina.
"Kami juga menyampaikan kecaman ini di Dewan Keamanan PBB pada 21 Mei yang lalu. Ini merupakan suatu tindakan yang tidak bisa diterima, dan tidak boleh dibiarkan," kata Sugiono.

Penyambutan kedatangan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Foto: Metro TV/Dimas Chairullah.
Menlu menambahkan, Kementerian Luar Negeri kini berfokus pada pemulihan kondisi para WNI pasca-insiden tersebut. Pihaknya memastikan beberapa relawan yang teridentifikasi mengalami trauma fisik dan psikologis akibat dugaan tindakan kekerasan selama masa penahanan di Israel akan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis intensif.