Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Foto: EFE
Italia Tangguhkan Perjanjian Pertahanan dengan Israel
Muhammad Reyhansyah • 15 April 2026 18:26
Roma: Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan bahwa pemerintahnya tidak akan memperpanjang perjanjian pertahanan dengan Israel, di tengah memburuknya hubungan kedua negara.
Melansir BBC, Rabu, 15 April 2026, Meloni menjelaskan bahwa keputusan untuk menangguhkan perpanjangan kesepakatan yang biasanya diperbarui setiap lima tahun diambil “melihat situasi saat ini,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Hubungan antara Roma dan Tel Aviv yang selama ini dikenal erat, belakangan mengalami ketegangan.
Pekan lalu, Italia memanggil duta besar Israel setelah pasukan Israel melepaskan tembakan peringatan ke arah konvoi penjaga perdamaian PBB asal Italia di Lebanon, yang menyebabkan kerusakan pada satu kendaraan tanpa menimbulkan korban.
Sebagai balasan, Israel juga memanggil duta besar Italia untuk memprotes pernyataan Menteri Luar Negeri Antonio Tajani yang mengecam “serangan tidak dapat diterima” terhadap warga sipil di Lebanon.
Pejabat Kementerian Pertahanan Italia menyatakan masih mengkaji bagaimana keputusan pemerintah tersebut akan diterapkan secara hukum dan praktis dalam kerangka kerja sama dengan Israel.
Kebijakan Senjata Italia-Israel
Menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Italia merupakan eksportir senjata terbesar ketiga ke Israel, meskipun kontribusinya hanya sekitar 1,3 persen dari total impor senjata Israel pada periode 2021–2025.Sejumlah negara Eropa sebelumnya telah membatasi atau menghentikan ekspor senjata ke Israel selama operasi militer di Gaza.
Operasi tersebut dipicu oleh serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 lainnya disandera ke Gaza. Setelah itu, lebih dari 72.000 orang dilaporkan tewas akibat operasi militer Israel di wilayah tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan publik di Italia untuk mengambil langkah serupa semakin meningkat, dengan ratusan ribu orang turun ke jalan atau melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes.
Meski demikian, pemerintahan koalisi sayap kanan Meloni sebelumnya tetap menjadi salah satu sekutu terdekat Israel di Eropa dan menolak mengikuti negara lain yang mengakui negara Palestina.
Namun, dinamika politik domestik mulai berubah setelah kekalahan pemerintah dalam referendum reformasi konstitusi pada akhir Maret, yang dinilai mencerminkan menurunnya dukungan publik.
Dengan pemilu umum yang akan digelar dalam waktu sekitar 18 bulan, Meloni mulai menyesuaikan retorikanya untuk menjaga jarak dari kebijakan yang dianggap tidak populer, termasuk hubungan dengan Israel dan Amerika Serikat.
Ketegangan dengan AS
Meloni juga baru-baru ini mengkritik Presiden AS Donald Trump atas komentarnya terhadap Paus Leo XIV, menyebutnya sebagai pernyataan yang “tidak dapat diterima,” serta menyatakan solidaritas kepada Paus.Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Trump, yang mengatakan kepada media Italia bahwa ia “terkejut” dengan sikap Meloni.
“Saya pikir dia berani, tetapi saya salah,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa Meloni tidak mempermasalahkan potensi ancaman nuklir dari Iran.
Di tengah situasi tersebut, para sekutu Meloni membela posisinya. Menteri Luar Negeri Antonio Tajani menegaskan bahwa hubungan Italia dengan Amerika Serikat dibangun atas dasar loyalitas, rasa hormat, dan kejujuran.
“Perdana menteri dan pemerintah akan selalu membela kepentingan Italia,” ujarnya.
Perubahan sikap ini mencerminkan upaya pemerintah Italia untuk menyeimbangkan tekanan domestik dan dinamika geopolitik yang semakin kompleks.