Lokasi longsor di Cisarua, Bandung Barat. Metrotvnews.com/Roni Kurniawan
Penyebab Longsor Cisarua Bukan Sekadar Alih Fungsi Lahan, Ini Kata Pakar ITB
Roni Kurniawan • 26 January 2026 07:36
Bandung: Longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tidak semata dipicu alih fungsi lahan. Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun menyebutkan, peristiwa tersebut merupakan hasil interaksi faktor alamiah dan aktivitas manusia yang memicu aliran lumpur (mudflow).
Menurut Imam, wilayah KBB didominasi material vulkanik tua dengan lapisan pelapukan tebal. Batas antara tanah pelapukan dan batuan dasar yang lebih kedap air kerap menjadi bidang gelincir, terutama saat hujan berdurasi panjang yang membuat tanah jenuh air.
"Ketika pori-pori tanah jenuh, kekuatan geser lereng menurun drastis dan berpotensi memicu longsor," ujar Imam dalam keterangan resmi ITB pada Minggu, 25 Januari 2026.
Imam menjelaskan hujan berintensitas sedang tetapi berlangsung lama bisa sama berbahayanya dengan hujan lebat berdurasi singkat. Dalam kasus Pasirlangu, lanjut Imam, ditemukan indikasi longsoran di hulu aliran lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai hingga membentuk bendungan alam.
Diakui Imam, sumbatan tersebut menahan aliran air dan sedimen hingga akhirnya jebol, memicu aliran lumpur bercampur pasir, batu, dan kayu ke arah hilir. Akibatnya, rumah-rumah warga terdampak bukan karena longsor di lokasi bangunan, melainkan material kiriman dari hulu melalui alur sungai.
"Yang terjadi bukan sekadar aliran air, tetapi aliran lumpur dengan daya rusak tinggi," ungkap Imam.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di lokasi longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Metrotvnews.com/Roni Kurniawan
Imam mengingatkan potensi bahaya susulan masih ada, mengingat kemungkinan sumbatan lain di bagian hulu. Jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, aliran lumpur dapat kembali terjadi dan mengancam wilayah hilir, khususnya permukiman di sempadan sungai.
Imam menekankan pentingnya mitigasi berbasis ilmu pengetahuan, mulai dari stabilisasi lereng di hulu, pemantauan jalur aliran, hingga pengendalian sedimen. Masyarakat juga diminta waspada terhadap tanda alam, seperti surutnya aliran sungai secara tiba-tiba saat hujan lebat.
"Bahaya tidak selalu datang dari lereng tempat rumah berdiri, tetapi bisa berasal dari aliran material dari hulu," tandas Imam.