Kerukunan antarumat beragama. Foto: Ilustrasi Media Indonesia.
Moderasi Dinilai Jadi Solusi Memahami Perbedaan Keyakinan
M Sholahadhin Azhar • 21 January 2026 17:01
Jakarta: Moderasi dinilai jadi solusi dalam memahami perbedaan keyakinan. Hal tersebut diungkap dalam buku terkait Ahmadiyah, dengan salah satu penulis Lukman Hakim Saifuddin.
"Memoderasi ini memang betul, keberagaman adalah keniscayaan, bukan hanya di Ahmadiyah, di Islam, Kristen, dan Katolik, itu adalah sunnatullah, dan bagaimana dikomunikasikan," kata Menteri Agama periode 2014-2019 dalam keterangan yang dikutip Rabu, 21 Januari 2026.
Keterangan Lukman Hakim dinukil dari peluncuran buku 'Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan'. Lukman melihat keberagaman merupakan keniscayaan dan sunnatullah, baik dalam Islam, Kristen, maupun Katolik.
Lukman mengapresiasi buku ini sebagai jembatan dialog yang mampu memoderasi kesalahpahaman yang telah berlangsung lama. Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Sahid menegaskan bahwa pihaknya meyakini agama sebagai ra?matan lil-‘alamin dan hudan lin-nas.

Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Sahid. Foto: Istimewa
Sejak awal kehadirannya di Indonesia pada 1925, pihaknya berupaya menapaki jalan damai melalui pendidikan, pengkhidmatan terhadap kemanusiaan. Termasuk, penguatan kerohanian serta menebar cinta kasih.
Amir Nasional juga menyampaikan bahwa perjalanan lebih dari 100 tahun ini tidak terlepas dari tantangan, dinamika sosial, serta berbagai tekanan. Dalam situasi tersebut, Jemaat Muslim Ahmadiyah memilih jalan kesabaran dan konsistensi, dengan keyakinan bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.