Jemaah Umrah Asal Malang Pastikan Kondisi di Makkah Aman dan Kondusif

Muhammad Zuhdy Achmadi, seorang jemaah umrah asal Malang, Jawa Timur, saat berada di Tanah Suci/Dok. Pribadi.

Jemaah Umrah Asal Malang Pastikan Kondisi di Makkah Aman dan Kondusif

Daviq Umar Al Faruq • 3 March 2026 20:45

Malang: Seorang jemaah umrah asal Malang, Jawa Timur, memastikan kondisi di Tanah Suci tetap kondusif di tengah kabar konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran. Muhammad Zuhdy Achmadi atau yang akrab disapa Didik, mengaku aktivitas ibadah di Makkah tetap berjalan normal, meski pengamanan di sekitar Masjidil Haram terlihat lebih ketat dari biasanya.

Didik berangkat bersama rombongan umrah yang tergabung dalam satu agen perjalanan berjumlah sekitar 30 orang. Dari jumlah tersebut, delapan orang berasal dari Malang dan sisanya dari Sumenep, Madura.

“Dari Al Hikam Malang itu ada delapan orang. Itu kemudian dijadikan satu dengan mitranya ya. Nah ini dari Sumenep ini mitranya Al Hikam. Itu saya diikutkan Sumenep. Jadi ada 30, dari Sumenep ada 22 jemaahnya,” kata Didik saat dihubungi via sambungan telepon, Selasa, 3 Maret 2026.
 


Kepada Metrotvnews.com, Didik menceritakan bahwa dirinya tiba di Arab Saudi pada 20 Februari 2026 dini hari waktu setempat setelah berangkat dari Indonesia sehari sebelumnya. Ia dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada Jumat, 6 Maret 2026 mendatang.

Terkait situasi keamanan usai memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah, Didik menegaskan jemaah asal Indonesia tidak menunjukkan kepanikan. Aktivitas seperti belanja dan mengaji tetap berlangsung seperti biasa tanpa gangguan berarti.

“Saya masih lumayan panik, yang lainnya ada yang masih belanja, ngaji, dan lain sebagainya. Enggak terpengaruh perang sama sekali. Ya karena itu lo, tidak ada pemberitaan di TV-TV. TV Arab, TV Saudi di Makkah ini tidak ada berita-berita seperti itu. Jadi saya lihat channel-channel ini, wah ini kok Arab enggak beritakan. Padahal Al-Jazeera itu kan beritakan juga,” ungkap Didik.


Muhammad Zuhdy Achmadi, seorang jemaah umrah asal Malang, Jawa Timur, saat berada di Tanah Suci/Dok. Pribadi.


Didik mengaku tidak memahami situasi di Arab Saudi secara keseluruhan. Namun, ia menegaskan suasana tidak terasa mencekam dan para jemaah tetap beraktivitas seperti biasa, lantaran pemerintah Arab berupaya agar situasi tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.

"Kemarin kita ziarah biasa, jemaahnya banyak seperti biasanya, aman. Padahal di sana dar der dor dar der dor. Ya ini ratusan orang yang telepon saya ini, padahal saya tidak merasa apa-apa di sini,” tutur Didik.

Meski demikian, ia mengaku sempat menerima pesan berantai yang diduga berasal dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) agar jemaah membatasi aktivitas di luar kepentingan ibadah. Imbauan tersebut juga meminta jemaah tidak bepergian sendirian dan mengikuti arahan otoritas setempat.

“Ada imbauan memang, melalui pesan berantai kayaknya sih dari Kedutaan Indonesia. Jadi pesan berantainya itu kalau tidak terlalu penting, itu enggak perlu jalan-jalan sendirian. Semua melihat panduan dari pemerintahan Arab, melihat panduan dari situ kalau mau kemana-mana," beber Didik.

Didik menilai suasana di Madinah hingga Makkah tetap terkendali sejak awal kedatangannya. Bahkan, sebagian jemaah baru mengetahui isu konflik justru dari media sosial, bukan dari informasi resmi di lokasi.

“Kondisi jemaah mulai dari Madinah sampai ke Makkah sampai sekarang kondusif. Bahkan banyak yang tidak tahu, tahunya malah berita-berita itu dari medsos. Malah kita tidak tahu apa-apa di sini,” kata Didik.


Muhammad Zuhdy Achmadi, seorang jemaah umrah asal Malang, Jawa Timur, saat berada di Tanah Suci/Dok. Pribadi.


Ia mengakui ada peningkatan signifikan jumlah aparat keamanan di sekitar Masjidil Haram. Pemeriksaan terhadap barang bawaan jemaah juga diperketat, termasuk larangan membawa tas ransel besar seperti biasanya.

“Pengamanan di masjid itu seperti orang bawa ransel atau tas kresek yang besar banyak barang-barang itu aja digeladah semua. Bahkan suruh kembali, bawa ransel enggak boleh, padahal biasanya enggak apa-apa. Ya mungkin karena terkait bom,” sambung Didik.

Didik menyebut kehadiran aparat bersenjata lebih mencolok dibanding biasanya. Setiap beberapa meter terlihat kelompok petugas berjaga di sejumlah titik strategis.

“Askar-askar ini lebih banyak dari biasanya. Lebih banyak, jadi setiap 10 meter ada gerombol laskar di jalan-jalan itu. Di samping mengamankan jemaah, mungkin ngamankan situasi. Terus ada pasukan khusus yang bersenjata, jadi pakai pistol. Kalau yang askar sih enggak. Tapi yang ini pakaian hitam-hitam, pakai pistol semua. Tidak seperti biasanya,” pungkas Didik.

Meski pengamanan diperketat, ia menegaskan tidak merasakan situasi mencekam selama menjalankan ibadah umrah. Bagi Didik dan rombongannya, Tanah Suci tetap aman dan aktivitas ibadah berjalan sebagaimana mestinya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)