Menlu Sugiono Tekankan Peran MIKTA dalam Reformasi PBB dan Sistem Multilateral

Menlu Sugiono dalam Pertemuan Menlu ke-30 MIKTA di New York, Amerika Serikat, 21 September 2026. (Kemlu RI)

Menlu Sugiono Tekankan Peran MIKTA dalam Reformasi PBB dan Sistem Multilateral

Willy Haryono • 22 September 2026 10:49

New York: Menteri Luar Negeri Sugiono menekankan pentingnya peran MIKTA dalam memperkuat kontribusinya dalam membentuk masa depan sistem multilateral dan menghadirkan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Menlu Sugiono dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ke-30 MIKTA yang digelar di sela-sela High-Level Week Sidang Majelis Umum ke-81 PBB di New York, Amerika Serikat, Senin, 21 September 2026.

“Dengan kekuatan kolektif yang kita miliki, MIKTA dapat berkontribusi nyata dalam membentuk masa depan sistem multilateral dan menghadirkan manfaat yang lebih terasa bagi masyarakat,” tegas Menlu Sugiono.

Menlu Sugiono menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Australia sebagai Ketua MIKTA pada 2026 yang dinilai telah menjaga produktivitas kelompok tersebut. Menurut dia, momentum tersebut perlu terus dimanfaatkan untuk memperkuat kontribusi MIKTA dalam mendorong sistem multilateral yang lebih efektif dan responsif.

Dalam konteks reformasi PBB, Indonesia menegaskan bahwa reformasi tidak semata-mata berkaitan dengan efisiensi, tetapi juga menyangkut legitimasi, efektivitas, dan akuntabilitas.

“MIKTA dapat menjaga kesinambungan inisiatif reformasi yang telah berjalan dan membantu membangun konsensus mengenai peta jalan reformasi dengan arah yang jelas dan mencerminkan visi bersama,” jelas Menlu Sugiono.

Lebih lanjut, Indonesia menggarisbawahi bahwa kekuatan MIKTA terletak pada kredibilitas dan konsistensi. Keberagaman perspektif dan kawasan negara anggotanya disebut menjadi sumber kredibilitas MIKTA.

Kekuatan Kolektif

Sementara itu, usulan mekanisme country coordinator untuk isu-isu tertentu dinilai dapat memperkuat konsistensi koordinasi MIKTA sehingga kerja sama dapat berjalan lebih terarah dan solid.

Menlu Sugiono juga mengapresiasi respons cepat MIKTA dalam mengeluarkan pernyataan bersama menyusul serangan terhadap pasukan pemelihara perdamaian Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL di Lebanon pada April 2026.

Menurut Menlu Sugiono, kemampuan merespons perkembangan secara real-time penting bagi MIKTA untuk menjaga relevansinya. Beberapa isu lain yang menjadi perhatian para menteri luar negeri MIKTA antara lain agenda pembangunan dan Artificial Intelligence (AI).

Menutup pernyataannya, Sugiono menekankan pentingnya memperluas kerja sama dengan sektor swasta, filantropi, dan mitra strategis lainnya yang dapat membantu menerjemahkan gagasan menjadi aksi.

“Pada akhirnya, kekuatan middle powers hanya akan berarti ketika kita mampu mengubah kekuatan kolektif menjadi dampak yang nyata,” ujar Menlu Sugiono.

Keketuaan Australia pada MIKTA 2026 mengusung tema “State of the Multilateral System and the Role of Middle Powers." Pertemuan Menteri Luar Negeri ke-30 MIKTA turut dihadiri menteri luar negeri negara anggota lainnya, yakni Meksiko, Republik Korea, dan Turki.

Baca juga: MIKTA Didorong Lebih Aktif untuk Hadapi Geopolitik Global yang Semakin Kompleks

(Willy Haryono)