Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi Aman Bhakti Pulungan (kedua dari kiri), Presiden Direktur PT Merck Tbk Evie Yulin (tengah), Orang tua dari anak dengan GHD, Merien Frentinia (kanan). Dok. Istimewa
Kenali Penyebab Gangguan Pertumbuhan Anak
Achmad Zulfikar Fazli • 24 September 2026 20:12
Jakarta: Permasalahan tumbuh kembang anak kerap terjadi di Indonesia. Ada berbagai penyebabnya yang harus menjadi perhatian serius orang tua.
Salah satu permasalahan dari pertumbuhan anak, yakni nutrisi yang masuk. Jika nutrisi yang diterima kurang, anak berpotensi mengalami stunting.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 prevalensi stunting nasional 19,8 persen. Namun, gangguan pertumbuhan anak memiliki spektrum yang lebih luas. Perawakan pendek, misalnya, tidak hanya dapat disebabkan faktor nutrisi, tetapi juga dapat terkait Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), hypothyroidism.
Selain itu, terdapat faktor genetik, seperti Turner Syndrome maupun kondisi medis kronis lainnya. Pada sebagian anak dengan perawakan pendek, penyebab spesifik tidak dapat diidentifikasi meskipun dilakukan evaluasi menyeluruh.
Kondisi ini dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS). Selain berdampak pada pertumbuhan fisik, gangguan pertumbuhan dapat memengaruhi aspek psikososial anak.
“Sebagai perusahaan sains dan teknologi terkemuka, Merck berkomitmen mendukung pertumbuhan optimal anak-anak Indonesia melalui edukasi yang berkelanjutan,” ujar Presiden Direktur PT Merck Tbk Evie Yulin dalam keterangan tertulis, Kamis, 24 September 2026.
Bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk media dan komunitas, pihaknya mendorong pemahaman masyarakat tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin dan mengenali potensi gangguan, termasuk perawakan pendek (short stature), sejak dini.
“Kami berharap edukasi ini membantu lebih banyak orang tua memahami pola pertumbuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” ujar Evie.

Ilustrasi pemeriksaan kesehatan anak. Dok. Istimewa
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi dan Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, menjelaskan perawakan pendek pada anak dapat disebabkan berbagai kondisi, sehingga tidak dapat serta-merta disamakan dengan stunting atau hanya dianggap sebagai masalah nutrisi.
Selain faktor nutrisi, perawakan pendek dapat terkait gangguan hormonal, kondisi genetik, hingga penyakit kronis. Gangguan hormonal yang dapat menyebabkan perawakan pendek antara lain Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), dan hipotiroidisme (hypothyroidism).
“Data survei menunjukkan prevalensi panjang badan lahir <48 cm sebesar 19,8 persen pada SGA. Faktor genetik juga dapat berperan, misalnya Sindrom Turner dengan prevalensi sekitar 1:1.500–2.000 pada kelahiran bayi perempuan hidup,” ujar Aman.
Secara global, GHD diperkirakan terjadi pada sekitar 1 dari 4 ribu–10 ribu anak. Pada sebagian anak lainnya, penyebab spesifik tidak dapat diidentifikasi meskipun telah dilakukan evaluasi menyeluruh, yang dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS).
Menurut Aman, hal yang perlu diperhatikan bukan hanya tinggi badan anak pada satu waktu, tetapi pola pertumbuhan dan laju penambahan tinggi dari waktu ke waktu.
“Apabila terdapat pola pertumbuhan yang berbeda dari yang diharapkan, orang tua dapat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut dan penanganan yang sesuai,” ujar Aman.
Selain dampak pada pertumbuhan fisik, gangguan pertumbuhan dapat berdampak pada aspek psikososial, seperti membuat anak merasa berbeda, kurang percaya diri, bahkan berpotensi menjadi korban perundungan.
Orang tua dari anak dengan GHD, Merien Frentinia, berbagi pengalaman ketika menyadari pertumbuhan putri keduanya terhambat. Meski merasa telah memberikan nutrisi yang cukup, Merien melihat ada hal yang perlu diperhatikan pada pertumbuhan putrinya.
Saat itu, dia berusia tujuh tahun dan duduk di bangku kelas satu SD. Merien mengatakan putrinya lebih pendek daripada teman sebayanya di sekolah. Hal tersebut diperkuat dengan informasi dari putri sulung Merien yang melihat hasil pengukuran tinggi badan adiknya di sekolah.
Kakaknya menyadari berdasarkan pengukuran tinggi badan setiap bulan, selama satu tahun tinggi putri bungsu Merien tetap berada di angka 113 cm. Temuan tersebut mendorong Merien dan keluarga mencari tahu lebih lanjut dan berkonsultasi dengan Prof. Aman.
“Saat itu saya sempat berpikir, apakah terlalu cepat untuk bertemu Prof. Aman. Namun, kami memilih untuk segera berdiskusi dan mencari tahu lebih lanjut. Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, putri bungsunya kemudian didiagnosis mengalami GHD dan membutuhkan terapi hormon pertumbuhan,” ujar Merien.
Sejak kelas dua SD hingga kini duduk di kelas lima SD, putri bungsunya telah menjalani terapi hormon pertumbuhan. Menurut Merien, selama kurang lebih tiga tahun menjalani terapi, tinggi badan sang anak bertambah sekitar satu sentimeter setiap bulannya.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari pertumbuhan fisiknya, tetapi juga dari kepercayaan dirinya. Bagi Merien, pengalaman ini menjadi pengingat ketika pertumbuhan anak menunjukkan pola yang perlu diperhatikan, orang tua tidak perlu ragu untuk mencari informasi dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan untuk memahami kondisi anak serta langkah yang tepat untuk mendukung pertumbuhannya.
Pengalaman Merien menunjukkan pentingnya melihat pertumbuhan anak secara lebih menyeluruh dan memantaunya secara rutin. Sejalan dengan upaya tersebut, Merck menghadirkan laman interaktif Takartinggi untuk membantu orang tua memantau pertumbuhan anak dengan mempertimbangkan tinggi badan orang tua dan memahami potensi pertumbuhan anak.
Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan mendorong orang tua lebih peka terhadap pola pertumbuhan anak dan mengambil langkah yang tepat apabila terdapat hal yang perlu diperhatikan.
Selain takartinggi, Evie mengatakan pihaknya meluncurkan buku cerita anak Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa sebagai sarana edukasi yang menarik dan mudah dipahami oleh seluruh anggota keluarga. Kedua inisiatif ini dihadirkan untuk membantu keluarga Indonesia untuk memahami dan lebih aktif memantau pertumbuhan anak sejak dini.
“Kami percaya edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan dapat membantu membangun pemahaman serta kewaspadaan yang lebih baik mengenai gangguan pertumbuhan anak,” ujar Evie.