Kiat Kurangi Plastik Sekali Pakai, Mulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Ilustrasi, kantong plastik sekali pakai. Foto: Medcom.id

Kiat Kurangi Plastik Sekali Pakai, Mulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Richard Alkhalik • 10 April 2026 13:05

Jakarta: Eskalasi geopolitik saat ini memberi tekanan pada rantai pasok yang bertumpu pada sektor ekstraktif, khususnya minyak bumi. Ketergantungan pada sektor tersebut nyatanya tidak hanya membebani ketahanan energi, tetapi juga merambat pada dunia industri produksi plastik sekali pakai.

Pegiat lingkungan dari Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi menilai gejolak geopolitik harus menjadi momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan pengurangan konsumsi plastik sekali pakai, mengingat minyak mentah merupakan komponen baku utama pembuatannya.

Sebagai respons pengendalian tingkat konsumen, Muharram menilai transisi menuju perilaku bebas plastik yang berkelanjutan dapat dimulai melalui langkah-langkah kecil seperti menolak penggunaan sedotan plastik dan kemasan styrofoam, serta menggunakan wadah saat berbelanja makanan dan minuman.

Menurut dia, apabila habituasi ini telah terbentuk, masyarakat dapat melangkah lebih jauh dengan mengimplementasikan sistem pemilahan sampah mandiri di tingkat rumah tangga.

"Menolak penggunaan sedotan atau styrofoam bisa menjadi langkah awal yang mudah. Jika mulai terbiasa, kita bisa lakukan pemilahan sampah di rumah," kata Muharram dikutip dari Antara, Jumat, 10 April 2026.
 
Baca juga: Kesepakatan Selat Hormuz Diyakini Bisa Bikin Suplai Bahan Baku Plastik Normal Lagi


(Ilustrasi, penggunaan kantong plastik. Greenhope)
 

Biasakan bawa botol minuman


Senada dengan hal tersebut, pegiat Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira menyoroti pergeseran perilaku konsumen dalam menekan penggunaan plastik sekali pakai dapat dimulai dengan membiasakan diri membawa botol minuman saat bepergian dan membawa wadah penyimpanan saat membeli beli bahan makanan yang basah ke pasar.

Menurut dia, adanya regulasi pelarangan kantong kresek oleh pemerintah daerah akan lebih membentuk kebiasaan masyarakat. "Dengan banyak daerah yang melarang kresek, masyarakat juga terbiasa membawa tas belanja sendiri," jelas Tiza.

Tiza juga menekankan pentingnya pergeseran pola perilaku belanja oleh masyarakat untuk meminimalkan penggunaan plastik, terutama terhadap barang keperluan rumah tangga dengan mulai memprioritaskan opsi layanan isi ulang atau membeli bumbu dapur secara curah tanpa menggunakan kemasan plastik tambahan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)