MotoGP Mandalika 2026 berpeluang perkuat ekonomi dan pariwisata NTB. Foto: dok Pertamina.
MotoGP Mandalika 2026 Berpeluang Perkuat Ekonomi dan Pariwisata NTB
Ade Hapsari Lestarini • 17 September 2026 15:34
Jakarta: Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), dinilai berpeluang memperkuat aktivitas ekonomi lokal dan pariwisata. Dampaknya dapat diperluas melalui keterlibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), tenaga kerja, serta rantai pasok lokal.
Peneliti Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Anggi Putri Kurniadi mengatakan ajang balap internasional tersebut perlu dihubungkan dengan sektor ekonomi lokal agar manfaatnya tidak berhenti selama penyelenggaraan berlangsung.
"Dukungan semacam ini idealnya jangan berhenti pada sponsorship, tetapi berlanjut melalui program yang menghubungkan event dengan UMKM, pariwisata, tenaga kerja, dan rantai pasok lokal sepanjang tahun," kata Anggi saat diwawancarai, Rabu, 16 September 2026.
Menurut Anggi, penyelenggaraan MotoGP perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi daerah, bukan hanya agenda olahraga internasional.
"Besarnya mobilitas wisatawan, belanja, investasi, serta aktivitas usaha yang tercipta selama penyelenggaraan memiliki potensi menghasilkan multiplier effect yang jauh lebih besar apabila keterkaitannya dengan perekonomian lokal dibangun secara sistematis," ujar dia.
Ia mengatakan pengembangan Indonesian GP perlu diarahkan untuk membentuk economic legacy, yakni manfaat ekonomi yang dapat terus berlangsung setelah penyelenggaraan berakhir. Hal tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha, penciptaan lapangan kerja, pengembangan rantai pasok lokal, serta peningkatan daya saing destinasi.
Karena itu, menurut Anggi, keberhasilan penyelenggaraan MotoGP tidak cukup diukur dari jumlah penonton, wisatawan, atau nilai transaksi selama race week. Dampaknya juga perlu dilihat dari manfaat yang diterima pelaku usaha lokal, lapangan kerja yang tercipta, peningkatan kapasitas produksi, serta aktivitas ekonomi setelah balapan selesai.
"Pelajaran yang relevan bagi Mandalika adalah pentingnya membangun local economic linkage, sehingga setiap penyelenggaraan MotoGP secara bertahap meninggalkan peningkatan kapasitas ekonomi yang tetap hidup setelah event berakhir," ujar Anggi.
Perkuat daya tarik pariwisata
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan pengembangan Mandalika perlu diarahkan sebagai kawasan wisata yang dapat menarik kunjungan di luar periode penyelenggaraan MotoGP.
Menurut Fahmy, kawasan Pertamina Mandalika International Circuit perlu dikembangkan tidak hanya sebagai lokasi balapan, tetapi juga sebagai bagian dari destinasi wisata dengan beragam aktivitas.
"Mandalika itu bukan hanya untuk balapan, tetapi perlu dikembangkan juga areanya untuk turis. Branding-nya bukan hanya untuk balapan, tapi juga dikembangkan supaya masyarakat sekitar terampil mengelola pariwisata dan UMKM setelah balapan selesai," kata Fahmy saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Rabu, 16 September 2026.

MotoGP Mandalika 2026 berpeluang perkuat ekonomi dan pariwisata NTB. Foto: dok Pertamina.
Ia menilai pengembangan kawasan wisata perlu didukung sarana, prasarana, serta ekosistem pendukung. Dengan demikian, wisatawan yang datang untuk menyaksikan Indonesian GP memiliki lebih banyak pilihan aktivitas dan berpotensi memperpanjang masa tinggal di Mandalika maupun wilayah sekitarnya.
"Jadi kawasan wisata tadi perlu dibangun, yang bisa mendukung kawasan wisata tadi," ujar dia.
Potensi ekonomi tersebut tercermin dari penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025. Berdasarkan data Mandalika Grand Prix Association (MGPA), jumlah penonton mencapai 140.324 orang, meningkat 15,73 persen dibandingkan 2024 yang mencatat 121.252 penonton.
InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) juga mencatat dampak ekonomi nasional dari penyelenggaraan tersebut mencapai Rp4,96 triliun. Angka tersebut berdasarkan studi Lembaga Teknologi Manajemen Industri Institut Teknologi Bandung (LETMI ITB).
Data tersebut menjadi gambaran mengenai skala aktivitas ekonomi yang dapat tercipta dari penyelenggaraan MotoGP. Namun, besaran dampak ekonomi pada 2026 tetap perlu dilihat berdasarkan hasil penyelenggaraan tahun ini.
Perluas manfaat ke ekonomi lokal
Anggi mengatakan Pertamina memiliki pengalaman dalam menjalankan program pemberdayaan UMKM dan masyarakat yang dapat menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat ekonomi penyelenggaraan MotoGP di Mandalika.
Menurut dia, pengalaman tersebut dapat digunakan untuk menghubungkan eksposur global Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 dengan pengembangan UMKM, pariwisata, dan rantai pasok lokal.
Dengan keterhubungan tersebut, manfaat ekonomi dari penyelenggaraan ajang balap diharapkan tidak hanya berlangsung selama rangkaian balapan, tetapi juga memberikan dampak bagi aktivitas usaha masyarakat setelah acara selesai.
"Dalam konteks Mandalika, kesinambungan tersebut dapat diarahkan untuk membangun economic legacy yang terukur," kata Anggi.