Ide Para Inovator Muda di Youth ESG Maritime 2026 Siap Jadi Kebijakan Nyata

Acara puncak final Youth ESG in Maritime Innovation Challenge, di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026. Foto: Istimewa

Ide Para Inovator Muda di Youth ESG Maritime 2026 Siap Jadi Kebijakan Nyata

Muhamad Marup • 4 June 2026 23:41

Jakarta: Rangkaian acara puncak final Youth ESG in Maritime Innovation Challenge resmi berakhir kemarin, Rabu, 3 Juni 2026. Sebanyak 8 peserta terbaik dari berbagai daerah dan negara diterbangkan langsung ke Jakarta untuk mengikuti rangkaian lokakarya (workshop) intensif dan tahap penjurian akhir selama tiga hari berturut-turut.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bersama Blue Ocean Strategy Fellowship (BOSF) berkolaborasi menggelar Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026. Langkah strategis ini dirancang untuk menjaring pemimpin muda dari kalangan pelajar SMA dan mahasiswa S1 dari seluruh Kawasan Asia Tenggara agar melahirkan inovasi nyata dalam melindungi ekosistem laut, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Program ini dirancang secara khusus untuk menjembatani kesenjangan antargenerasi dengan melibatkan kaum muda dalam kreasi bersama yang strategis guna membangun ekonomi maritim yang siap menghadapi masa depan. Kompetisi ini menggunakan kerangka kerja Blue Ocean untuk memicu ide-ide segar yang mampu menciptakan ruang pasar baru yang tidak diperebutkan (uncontested market space).

Program kolaborasi yang diinisiasi Sampoerna University dan Blue Ocean Academy ini sukses menjaring ratusan inovator muda dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara yang siap membawa perubahan nyata melalui pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG).

Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno yang juga Distinguished Fellow dalam inisiatif Youth ESG in Maritime Innovation Challenge ini menegaskan pentingnya aksi nyata dari generasi muda di tengah besarnya tekanan lingkungan maritim saat ini. Menurutnya, lautan bukan sekadar bentangan air, melainkan urat nadi kehidupan bagi mayoritas masyarakat di kawasan.

Wamenlu Havas sampaikan ide mengenai tema laut sebagai benang merah yang perlu diangkat dalam kerja sama dengan BOSF.  “Saya percaya bahwa Anda sangat sadar bahwa laut adalah bagian penting dari hidup kita. 70 persen bagian dari bumi dan hampir 70 persen kawasan Asia Tenggara adalah laut," ujar Havas dalam sambutannya di hadapan para finalis Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026, di Aula Kantin Diplomasi, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.

Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno dalam acara puncak final Youth ESG in Maritime Innovation Challenge, di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026. Foto: Istimewa

Memahami Ancaman Riil Kawasan Maritim

Fakta menunjukkan adanya ketergantungan yang luar biasa tinggi antara wilayah pesisir dengan laut. "Saya berpikir hanya Laos yang tidak memiliki laut. Negara lain seperti  Myanmar, Korea, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Indonesia semuanya negara yang memiliki laut," paparnya.

Ia menambahkan, ketergantungan ini terlihat dari pola pemukiman warga. “Jika kita bicara tentang Indonesia, saya pikir 60 persen masyrakat tinggal di wilayah pesisir dan sepanjang garis pantai," ujar Mantan Dubes RI untuk Jerman tersebut.

Implementasi Nyata Konsep ESG 

Namun, kekayaan maritim ini terus menghadapi ancaman serius, mulai dari isu sampah plastik, kerusakan terumbu karang, hingga deforestasi mangrove. Melalui platform Youth ESG in Maritime Innovation Challenge, para peserta ditantang merumuskan solusi berbasis Environmental, Social, dan Governance (ESG).

Havas menguraikan bagaimana inovasi generasi muda harus mampu menerjemahkan tiga pilar tersebut secara konkret di sektor maritim.  E (environmental) bermakna melindungi lingkungan maritim dari berbagai kerusakan, S (social) untuk melindungi kesejahteraan masyarakat yang hidup dan bergantung pada kesehatan laut, dan G (governance) untuk membangun kepercayaan melalui sistem tata kelola pemerintahan yang kuat.

"Dengan melindungi lingkungan, masyarakat, dan membangun kepercayaan melalui tata kelola yang kuat, kita akan dapat menciptakan ekosistem yang baik bagi lingkungan maritim kita,” ujar Havas.

Dalam kesempatan yang sama, Sora Lokita, asisten deputi di kemenko bidang infrastruktur dan Pembangunan kewilayahan, selaku senior associate fellow BOSF menegaskan, bahwa pemerintah maupun industri tidak akan mampu bergerak sendiri dalam menghadapi isu maritim yang kian kompleks di Asia Tenggara. Dibutuhkan cara baru dan keterlibatan penuh generasi muda untuk menyelamatkan masa depan laut regional.

"Hari ini bukan hanya mengenai memilih pemenang, tetapi juga mengenai merayakan ide, inovasi, dan komitmen orang muda di seluruh Asia Tenggara untuk membangun masa depan kemaritiman yang lebih berkembang," ujar Sora. Sora menjelaskan, sektor maritim di Asia Tenggara saat ini berada di titik persimpangan krusial. Sektor ini memegang peran vital mulai dari tata kelola laut, ketahanan pangan, mata pencaharian, pariwisata, energi, hingga pertumbuhan ekonomi. 

Namun, seluruh potensi besar tersebut dibayangi oleh ancaman nyata perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Menghadapi tantangan berat ini, Sora menegaskan, bahwa pendekatan konvensional dan egosentris dari pihak pemerintah atau industri saja sudah tidak lagi relevan.

"Kami selalu membutuhkan perspektif baru. Dan itulah kenapa kami melirik ke kalian, para generasi muda," tegas Sora.

Dari yang awalnya hanya sebuah Proyek Pelajar, sangat mungkin ke depannya dapat berubah menjadi sebuah kebijakan nyata.

Kepada para finalis dan seluruh peserta yang telah berpartisipasi, Sora memberikan apresiasi tinggi atas keberanian mereka melahirkan gagasan-gagasan kreatif. Bagi peserta yang belum berhasil menembus babak final, ia berpesan agar tidak patah arang karena inovasi sejati adalah sebuah proses yang berkelanjutan.

Pemerintah optimistis, kolaborasi yang kuat antara ide anak muda, dukungan kebijakan, dan implementasi industri akan menjadi kunci utama keberlanjutan sektor maritim regional.

"Ide-ide yang dibagikan hari ini mungkin hanya sebuah proyek pelajar, tapi esok, kita tidak tahu, mereka mungkin menjadi kebijakan, ide bisnis, teknologi, atau pergerakan yang membantu kemajuan masa depan. Terima kasih, dan saya berharap semuanya berjaya," kata Sora.

Melalui Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026, kolaborasi Kemenlu dan BOSF ini diharapkan mampu mencetak pemimpin-pemimpin muda masa depan yang tidak hanya kaya akan ide, tetapi juga tangguh dan mandiri dalam mengeksekusi solusi nyata demi keberlanjutan laut dunia. 

Berkomitmen Pada Sinergitas Antarpihak

BOSF 2026 menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antarpihak dalam merumuskan inovasi dalam menangkap peluang dan menyelesaikan tantangan di Indonesia. Berlandaskan pada asas non-kompetisi ala Blue Ocean Strategy dalam menciptakan inovasinya, BOSF beharap dapat berperan aktif dalam menciptakan ekosistem kebijakan publik yang lebih kompetitif, inovatif dan berkelanjutan.

Setelah sukses mengadakan fellowship bersama Mochamad Ridwan Kamil (2023), Sandiaga Salahuddin Uno (2024), dan Sakti Wahyu Trenggono (2025) sebagai Distinguished Fellows Blue Ocean Strategy Fellowship (BOSF) tahun ini kembali diselenggarakan bersama Wakil Arif Havas Oegroseno sebagai Distinguished Fellow BOSF dengan tema ESG pada konteks Maritim.

Berikut adalah ringkasan perjalanan inspiratif para finalis selama berada di Jakarta:
  1. Aksi Nyata untuk Lingkungan di Pulau Kelor (1 Juni)
  2. Babak Final dan Adu Gagasan (2 Juni)
  3. Kunjungan Diplomasi dan Penutupan (3 Juni)

Setelah itu, rangkaian Youth ESG in Maritime Innovation Challenge resmi ditutup melalui sebuah seremoni penutupan (Closing Ceremony) yang diselenggarakan di Sampoerna University.

Melalui program ini, diharapkan para peserta Top 8 dapat terus mengembangkan inovasi mereka dan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi keberlanjutan sektor maritim, baik di tingkat nasional maupun internasional.

(Muhamad Marup)