Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu
Trump Tegaskan Lanjutkan Blokade Iran, Teheran Ancam Balas dengan Tindakan Nyata
Fajar Nugraha • 30 April 2026 12:10
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pihaknya akan terus melanjutkan blokade laut terhadap Iran hingga kesepakatan nuklir dengan Teheran tercapai.
Dalam keterangannya, Trump menolak untuk mengakhiri blokade pelabuhan Iran dan mengabaikan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai syarat kelanjutan perundingan.
“Blokade ini jauh lebih efektif daripada pengeboman. Mereka tercekik seperti babi panggang, dan ini akan menjadi lebih buruk bagi mereka. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” ujar Trump, seperti dikutip Al Jazeera, pada Kamis, 30 April 2026.
Di sisi lain, Iran menerapkan pencabutan pengepungan tersebut sebagai prasyarat utama untuk kembali ke meja perundingan. Berdasarkan sejumlah laporan media, Iran pekan ini menawarkan kesepakatan terbatas untuk mengakhiri blokade mereka di Hormuz dengan imbalan penghentian pengepungan pelabuhan mereka, namun pernyataan Trump mengindikasikan penolakan terhadap proposal tersebut.
Presiden AS tersebut menekankan bahwa dirinya merasa nyaman dengan status quo saat ini, yang mengisyaratkan bahwa ia tidak terburu-buru untuk mendorong perjanjian komprehensif atau kembali ke medan pertempuran. Sebagai bagian dari pengepungan, setidaknya dua kapal komersial yang terkait dengan Iran telah disita oleh AS, sementara militer AS menyatakan telah mengalihkan rute 39 kapal di perairan regional dalam beberapa pekan terakhir.
Iran merespons tindakan tersebut dengan turut menyita kapal-kapal yang dituduh melanggar peraturan maritim. Kebuntuan ini menyebabkan harga minyak dunia melonjak dan memicu inflasi energi di AS, di mana harga bensin per galon kini melampaui USD4,22, naik signifikan dari harga sebelum perang yang berada di bawah USD3.
Harga minyak mentah Brent sebagai tolok ukur internasional melonjak hingga lebih dari USD119 per barel pada Rabu seiring meningkatnya retorika kedua negara. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuding AS tengah mencoba mengaktifkan tekanan ekonomi dan perpecahan internal untuk melemahkan negara dari dalam.
Ia berjanji bahwa rakyat Iran akan mengalahkan rencana musuh dan meraih kemenangan dalam perang ini. Secara terpisah, sumber keamanan senior yang tidak disebutkan namanya menyatakan kepada media pemerintah Iran bahwa blokade AS akan segera dihadapi dengan tindakan praktis dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Trump kemudian menegaskan kembali klaimnya bahwa AS telah melumpuhkan kapabilitas militer Iran dan menyatakan bahwa kekuatan militer Teheran hanya tersisa sedikit, termasuk sebagian kecil rudal. Di luar masalah blokade di Teluk, AS dan Iran tampak menemui jalan buntu terkait isu nuklir, di mana Teheran bersikeras pada hak pengayaan uranium domestik sementara Trump menuntut pembongkaran total program tersebut.
Iran juga telah mengesampingkan pembatasan produksi rudal dan pesawat tanpa awak, serta menolak menghentikan dukungan bagi sekutu regionalnya, yang merupakan tuntutan utama Israel dan AS. Setelah gencatan senjata tercapai awal bulan ini, dialog di Pakistan gagal memecahkan kebuntuan tersebut.
Pada hari Rabu, Trump mengadakan pembicaraan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang sebelumnya telah bertemu dengan Menlu Iran Abbas Araghchi. Kremlin mengatakan bahwa Rusia telah mengajukan sejumlah proposal untuk menyelesaikan perselisihan nuklir Iran dan akan menjaga kontak aktif dengan perwakilan Iran, negara-negara Teluk, Israel, serta tim negosiasi Amerika Serikat.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran melaporkan bahwa Araghchi telah bertemu dengan Presiden Komite Internasional Palang Merah (ICRC) untuk mengecam serangan AS dan Israel terhadap situs sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit. Pihak kementerian menegaskan tanggung jawab komunitas internasional untuk mengambil sikap tegas dalam menghukum para pelaku kejahatan perang tersebut.
(Kelvin Yurcel)