Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: Anadolu
Teror dan Pembunuhan dari Israel Gagal, Persatuan Iran Justru Makin Kuat
Dimas Chairullah • 24 April 2026 16:30
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa rentetan teror dan pembunuhan yang dilakukan rezim Israel telah gagal total.
Sebaliknya, agresi tersebut justru menunjukkan persatuan, tujuan, dan disiplin baja dari lembaga-lembaga negara Republik Islam Iran.
Melalui unggahan di platform X pada Kamis waktu setempat, Araghchi menegaskan bahwa kampanye kriminal Israel berupa pembunuhan dan sabotase telah menghasilkan sesuatu yang bertolak belakang dengan tujuan awal mereka.
"Kegagalan pembunuhan teroris yang dilakukan Israel tercermin dalam bagaimana lembaga-lembaga negara Iran terus bertindak dengan persatuan, tujuan, dan disiplin," tegas Araghchi, dikutip dari Press TV, Jumat, 24 April 2026.
Alih-alih melemahkan Iran, tindakan putus asa dan pengecut dari rezim Zionis dinilai justru memperkuat koordinasi antara garis depan pertahanan militer dengan upaya diplomatik Teheran.
Araghchi menggambarkan medan perang dan diplomasi sebagai "front yang terkoordinasi penuh dalam perang yang sama". Ia menggarisbawahi respons militer, ilmiah, dan politik adalah bagian dari strategi terpadu untuk mempertahankan kedaulatan Iran.
"Rakyat Iran bersatu, lebih dari sebelumnya," imbuhnya, menyoroti tekad nasional yang makin kuat dalam menghadapi ancaman, sanksi, dan provokasi eksternal.
Menurut Araghchi, ketergantungan Israel pada taktik terorisme merupakan bukti nyata dari kebangkrutan strategis mereka. Karena tidak mampu menantang Iran di medan perang konvensional, Zionis terpaksa menempuh jalur pembunuhan yang melanggar hukum internasional.
Kekompakan Iran juga ditunjukkan secara nyata pada Kamis kemarin oleh tiga kepala cabang pemerintahannya. Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, dan Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni Ejei merilis pernyataan bersama untuk mengecam Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Ketiganya dengan tegas menepis klaim Trump yang menyindir adanya "perpecahan antara kelompok ekstremis dan moderat" di internal Iran. Mereka menilai ucapan Trump tersebut sebagai provokasi murahan yang tak beralasan.
Tensi panas di kawasan bermula pada 28 Februari lalu saat AS dan Israel melancarkan agresi berskala besar yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone secara masif selama 40 hari beruntun ke aset militer AS dan Israel.
Kedua kubu sempat menyepakati gencatan senjata pada 8 April, disusul perundingan damai di Islamabad. Sayangnya, negosiasi selama 21 jam itu berakhir buntu lantaran Iran menuntut penarikan pasukan AS dan pencabutan sanksi, namun meragukan komitmen Washington.