Menhut: Karhutla Agustus Turun, Riau dan Jambi Catat Nol Hotspot

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat menyampaikan update penanganan kebakaran hutan dan lahan 2026. Youtube Kementerian Kehutanan

Menhut: Karhutla Agustus Turun, Riau dan Jambi Catat Nol Hotspot

Whisnu Mardiansyah • 1 September 2026 12:53

Jakarta: Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Ia mengatakan jumlah titik panas atau hotspot menunjukkan penurunan setelah pemerintah dan berbagai pihak melakukan penanganan sepanjang Agustus 2026.

Raja Juli juga menyoroti kondisi El Nino yang mulai menguat pada Agustus dan diperkirakan mencapai puncaknya pada September. Menurut dia, kekuatan El Nino pada 2026 memiliki kemiripan dengan kondisi pada 2015.

"Ini data kekuatan El Nino yang terjadi saat sekarang ini pada tahun 2026 sama dengan El Nino tahun 2015," kata Raja Juli dalam Update Penanganan Karhutla, Selasa, 1 September 2026.

Ia kemudian membandingkan luasan karhutla pada sejumlah periode El Nino. Hingga Juli 2026, luas lahan terbakar tercatat sekitar 204 ribu hektare. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2015, ketika luas lahan terbakar mencapai sekitar 600 ribu hektare.

"Kalau data sampai bulan Juli membandingkan apple to apple ke tahun 2015, terbakar pada masa itu adalah 600 ribu hektare, ini sampai bulan Juli 204 ribu hektare dan ini belum puncak," ujarnya.

Raja Juli menyebut penurunan jumlah hotspot selama Agustus menjadi salah satu perkembangan positif dalam penanganan karhutla. Data 1-31 Agustus 2026 menunjukkan penurunan titik panas di sejumlah provinsi.
 


Riau dan Jambi Nol Hotspot

Raja Juli mengatakan Riau dan Jambi menjadi dua provinsi dengan jumlah hotspot nol berdasarkan data hingga 31 Agustus 2026.

"Berita baiknya seperti yang saya katakan tadi, perjuangan satu bulan di lapangan ketika puncak karhutla ini menghampiri Indonesia, kita lihat data dari tanggal 1 Agustus sampai dengan 31 Agustus," kata dia.

Ia menyebut kondisi di Riau turut menunjukkan perkembangan positif karena dalam dua hari terakhir tidak terdeteksi hotspot.

"Paling pojok tanggal 31 Agustus, dua provinsi yang paling bawah yaitu Riau dan Jambi hotspotnya sudah nol, alhamdulillah. Dan bahkan Riau sudah dua hari terakhir sudah nol," ujarnya.

Sementara itu, Sumatra Selatan masih mencatat sejumlah hotspot. Namun, setelah dilakukan pengecekan, jumlah titik yang teridentifikasi sebagai fire spot lebih sedikit.

"Di Sumatra Selatan hotspot ada 37, tapi ketika dicek fire spotnya ternyata hanya 11," kata Raja Juli.


Pemadaman karhutla oleh tim gabungan di Samarinda, Kaltim. ANTARA/Ahmad Rifandi


Ia menjelaskan kondisi lahan gambut memiliki karakteristik tersendiri. Meski api telah padam, proses pendinginan tetap diperlukan karena lahan masih dapat menghasilkan asap.

"Alhamdulillah kalau hotspotnya nol di bawahnya pasti juga tidak ada fire spot. Cuman karakter gambut apinya sudah padam tetapi tetap memproduksi asap. Ini sekarang sedang melakukan pendinginan secara intensif," ujarnya.

Berdasarkan data yang dipaparka, pada Senin malam, 31 Agustus sekitar pukul 23.00, masih terdapat sejumlah hotspot di beberapa wilayah. Kalimantan Selatan tercatat 22 hotspot, sedangkan Sumatra Selatan 20 hotspot. Dua wilayah yang disebut masih memiliki jumlah hotspot relatif tinggi ialah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Meski masih terdapat sejumlah wilayah dengan hotspot tinggi, Raja Juli menilai grafik perkembangan selama Agustus menunjukkan tren penurunan. Ia mengatakan jumlah hotspot sempat mencapai titik tertinggi pada 29 Agustus dengan 1.118 titik. Setelah itu, jumlahnya kembali menurun.

"Meskipun sekali lagi kalau kita lihat dari grafik selama satu bulan perjuangan memadamkan karhutla ini angkanya juga turun. Dari tanggal 29 Agustus di puncaknya 1.118 hotspot, tapi kemudian berkat kerja sama akhirnya bisa turun," kata Raja Juli.

(Whisnu M)