Ilustrasi biji kopi. Foto: Medcom.id
Bekerja Tenang di Kebun Kopi, Harapan Sederhana Para Pekerja Lereng Gunung
Deny Irwanto • 8 January 2026 16:09
Bondowoso: Di lereng gunung yang sejuk dan subur, tempat kopi arabika tumbuh dan menjadi kebanggaan daerah, para pekerja perkebunan kopi menyimpan harapan sederhana namun mendasar: bekerja dengan rasa aman dan suasana yang kondusif. Bagi mereka, ketenangan dalam bekerja adalah syarat utama agar roda produksi tetap berjalan dan kehidupan keluarga tetap terjaga.
Setiap hari, para pekerja memulai aktivitas sejak pagi, merawat tanaman kopi yang telah menjadi sumber penghidupan lintas generasi. Kebun bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang hidup yang menopang ekonomi rumah tangga, pendidikan anak, dan masa depan keluarga. Oleh karena itu, stabilitas dan rasa aman di lingkungan kebun menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
Dalam berbagai kesempatan, para pekerja menyuarakan keinginan agar aktivitas perkebunan dapat berlangsung tanpa gangguan, sehingga mereka dapat fokus menjalankan tugas secara profesional. Lingkungan kerja yang tertib dan kondusif diyakini akan berdampak langsung pada produktivitas, kualitas hasil panen, serta keberlanjutan perkebunan kopi di kawasan pegunungan.
"Yang kami perjuangkan bukan semata soal lahan, tetapi rasa aman untuk bekerja dan hidup. Ketika kebun dirusak, akses dibatasi, dan konflik dibiarkan berlarut, yang hilang bukan hanya tanaman kopi, tetapi juga ketenangan dan kepastian hidup pekerja beserta keluarganya," kata Ketua Serikat Pekerja Perkebunan Regional 5 PTPN I (eks PTPN XII), Bramantyo, di Bondowoso, Kamis, 8 Januari 2026.
Harapan tersebut disampaikan secara damai dan terbuka, sebagai wujud tanggung jawab pekerja terhadap keberlanjutan perkebunan. Mereka ingin tetap bekerja, menjaga kebun, dan berkontribusi bagi daerah serta negara, selama hak untuk bekerja dengan aman dan bermartabat dapat terpenuhi.

Para pekerja menyuarakan keinginan agar aktivitas perkebunan dapat berlangsung tanpa gangguan. Dokumentasi/ istimewa
Bagi para pekerja di lereng gunung, ketenangan dalam bekerja bukan tuntutan berlebihan, melainkan fondasi agar kopi tetap tumbuh, produksi tetap berjalan, dan kehidupan keluarga di sekitar perkebunan dapat berlangsung secara layak dan berkelanjutan.
Sementara Direktur Aset Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Agung Setya Imam Efendi, mengatakan konflik lahan di kawasan perkebunan negara tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan operasional, melainkan menyangkut aset negara, kepastian hukum, dan keselamatan manusia yang bekerja di dalamnya.
"Kami memahami kegelisahan para pekerja. Bagi holding, aset perkebunan bukan hanya tanah dan tanaman, tetapi juga ekosistem kerja yang harus aman, tertib, dan memiliki kepastian hukum. Negara tidak boleh abai ketika rasa aman pekerja terganggu," jelas Agung.
Menurutnya Holding Perkebunan Nusantara berkomitmen mengawal penyelesaian konflik secara terstruktur, terukur, dan berbasis hukum, dengan mengedepankan koordinasi lintas pihak, termasuk pemerintah daerah dan apparat penegak hukum.
"Prinsip kami jelas: aset negara harus dilindungi, pekerja harus merasa aman, dan penyelesaian konflik harus ditempuh melalui mekanisme hukum yang adil. Tidak ada ruang bagi pembiaran. Kami ingin memastikan bahwa kebun sebagai ruang produksi dan ruang hidup dapat kembali berfungsi sebagaimana mestinya," ungkap Agung.