Iran Siap Pertimbangkan Kompromi Kesepakatan Nuklir Jika AS Cabut Sanksi

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi. (EPA)

Iran Siap Pertimbangkan Kompromi Kesepakatan Nuklir Jika AS Cabut Sanksi

Willy Haryono • 15 February 2026 16:34

Teheran: Iran menyatakan siap mempertimbangkan kompromi untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat jika Washington bersedia membahas pencabutan sanksi, kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi.

Dalam wawancara dengan media BBC yang dipublikasikan pada Minggu, 15 Februari 2026, Takht-Ravanchi mengonfirmasi bahwa putaran kedua pembicaraan nuklir akan berlangsung di Jenewa pada Selasa, setelah Teheran dan Washington kembali melanjutkan diskusi di Oman awal bulan ini.

“(Pembicaraan awal berjalan) kurang lebih ke arah yang positif, tetapi terlalu dini untuk menilai,” kata Takht-Ravanchi.

Iran menyatakan siap membahas pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan pencabutan sanksi, namun berulang kali menolak mengaitkan isu tersebut dengan persoalan lain, termasuk program rudal.

Delegasi AS, termasuk utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Iran pada Selasa pagi, menurut sebuah sumber pada Jumat, dengan perwakilan Oman memediasi kontak AS-Iran.

Fleksibilitas Iran

Kepala badan energi atom Iran pada Senin mengatakan negaranya dapat menyetujui pengenceran uranium yang diperkaya pada tingkat tertinggi sebagai imbalan pencabutan seluruh sanksi keuangan. Takht-Ravanchi menggunakan contoh tersebut dalam wawancara BBC untuk menyoroti fleksibilitas Iran.

Diplomat senior itu kembali menegaskan posisi Teheran bahwa Iran tidak akan menerima penghentian total pengayaan uranium, yang menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan tahun lalu. AS memandang pengayaan uranium di dalam negeri Iran sebagai jalur menuju pengembangan senjata nuklir.

Iran membantah berupaya mengembangkan senjata nuklir.

Pada masa jabatan pertamanya, Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015, yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang merupakan pencapaian kebijakan luar negeri utama Presiden Demokrat Barack Obama.

Kesepakatan tersebut melonggarkan sanksi terhadap Iran sebagai imbalan pembatasan program nuklir Teheran untuk mencegah kemampuan membuat bom atom.

Baca juga:  Trump Peringatkan Iran soal Dampak Berat Jika Gagal Capai Kesepakatan Nuklir

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)