Ilustrasi halal global. (visi.cloud)
Peran Indonesia dalam Ekosistem Halal Dunia yang Terus Berkembang
Willy Haryono • 11 February 2026 15:13
Jakarta: Industri halal global terus mencatat pertumbuhan stabil meski ekonomi dunia menghadapi berbagai tantangan.
Bertambahnya populasi Muslim serta meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan menjadikan sektor ini semakin relevan dalam perekonomian internasional.
Laporan State of the Global Islamic Economy menunjukkan bahwa industri halal kini berkembang menjadi ekosistem lintas negara yang terbuka terhadap kemitraan global. Ekonomi halal tidak lagi terbatas pada negara mayoritas Muslim, melainkan telah menarik partisipasi luas dari berbagai kawasan.
Spektrum sektor halal mencakup makanan dan minuman, fesyen, farmasi, kosmetik, pariwisata ramah Muslim, hingga keuangan syariah. Negara-negara dengan populasi non-Muslim yang dominan seperti Jepang, Korea Selatan, dan Thailand bahkan mulai membangun infrastruktur halal untuk mengakses pasar global. Perkembangan ini menegaskan bahwa industri halal memiliki daya saing universal dan ruang kolaborasi yang besar.
Harmonisasi Standar Jadi Fondasi
Peluang kerja sama internasional semakin terbuka melalui upaya penyelarasan standar halal. Perbedaan mekanisme sertifikasi antarnegara selama ini kerap menjadi hambatan dalam perdagangan.Karena itu, kolaborasi antarotoritas sertifikasi halal menjadi langkah strategis. Sinergi antara lembaga nasional seperti Departemen Pengembangan Islam Malaysia (JAKIM), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta otoritas halal di Timur Tengah dapat mendorong pengakuan bersama sertifikat halal. Upaya harmonisasi tersebut bukan hanya memperlancar arus ekspor-impor, tetapi juga memperkuat kepercayaan konsumen global terhadap produk halal lintas batas.
Inovasi dan Alih Teknologi
Kemitraan global juga membuka peluang riset dan pengembangan teknologi. Negara dengan keunggulan inovasi dapat bekerja sama dengan negara yang memiliki kapasitas produksi besar dan pasar yang luas.Dalam sektor farmasi dan kosmetik halal, pengembangan bahan baku, standar produksi higienis, serta sistem pelacakan rantai pasok menjadi fokus strategis. Pemanfaatan teknologi digital, termasuk sistem penelusuran berbasis data, turut meningkatkan transparansi dan menjaga integritas produk dari tahap produksi hingga distribusi.
Diplomasi Ekonomi Berbasis Halal
Industri halal kini menjadi instrumen diplomasi ekonomi. Pameran dagang, forum bisnis, dan kesepakatan bilateral dimanfaatkan untuk menarik investasi serta memperluas jaringan pasar.Indonesia memiliki posisi strategis dalam dinamika ini. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pasar domestik yang luas, Indonesia berpotensi menjadi simpul kolaborasi halal global, sekaligus menjembatani perdagangan antara Asia, Timur Tengah, dan Afrika.
Pada akhirnya, kerja sama global di sektor halal bukan hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan praktik bisnis yang etis dan berkelanjutan. Sinergi lintas negara menjadi fondasi penting untuk menciptakan stabilitas, inovasi, dan kesejahteraan jangka panjang. (Keysa Qanita)
Baca juga: Ekosistem Halal Global: Regulasi, Riset, dan Teknologi Jadi Kunci