Sistem pipa gas di Ungheni, sekitar 105 km sebelah barat Chisinau, Moldova. Foto: dok Xinhua.
Harga Gas Eropa Melonjak, Tertinggi Sejak Akhir 2022
Husen Miftahudin • 24 October 2026 10:06
London: Harga gas alam grosir di Eropa melonjak pada perdagangan Jumat di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global menjelang musim dingin.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 24 Oktober 2026, kontrak acuan gas alam Belanda untuk pengiriman bulan berikutnya, Title Transfer Facility (TTF), naik 3,8 persen menjadi EUR93,40 per megawatt-jam (MWh). Dengan kenaikan tersebut, harga TTF mencatatkan penguatan mingguan hampir 7 persen.
Di Inggris, kontrak berjangka gas alam National Balancing Point (NBP) meningkat 3,5 persen menjadi 229 pence per termal (therm). Harga kontrak tersebut diperkirakan mengakhiri pekan dengan kenaikan 6,2 persen.
Kedua acuan harga gas tersebut mendekati level tertinggi sejak akhir 2022. Pelaku pasar memperhitungkan peningkatan risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan energi internasional.
Ketegangan Timur Tengah picu kekhawatiran pasokan LNG
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang membayangi pasar gas Eropa. Risiko gangguan pada jalur pelayaran strategis menambah kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman energi.
Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran dilaporkan melancarkan serangan drone dan rudal terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk fasilitas transportasi dan energi. Laporan yang menjadi bahan sumber juga menyebut serangan terhadap bandara sipil di Dammam dan ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco.
Menyusul perkembangan tersebut, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) memerintahkan staf non-darurat beserta anggota keluarga mereka meninggalkan misi diplomatik AS di Arab Saudi. Rencana penarikan personel dari sejumlah pos regional lainnya juga dilaporkan sedang disiapkan.
Ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi memengaruhi pengiriman LNG dan memperketat persaingan pembeli di pasar internasional.
Tekanan terhadap pasar energi Eropa juga datang dari kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak Brent, acuan minyak global, melonjak hingga USD114 per barel pada Jumat, level tertinggi dalam lebih dari lima bulan. Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi dan meningkatkan biaya energi bagi industri Eropa, terutama sektor yang membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Di sisi geopolitik, hubungan diplomatik antara Iran dan negara-negara Barat dilaporkan masih mengalami kebuntuan. Pejabat Iran menolak negosiasi dengan Washington, sementara media pemerintah Iran melaporkan ledakan yang belum diketahui penyebabnya di dekat Pelabuhan Sirik, di kawasan Selat Hormuz.

(Ilustrasi, bendera Uni Eropa. Foto: Anadolu Agency)
Cadangan gas Eropa di bawah rata-rata
Kenaikan harga gas terjadi ketika tingkat penyimpanan gas di Eropa dilaporkan berada di bawah rata-rata historis menjelang musim dingin.
Fasilitas penyimpanan gas bawah tanah di Uni Eropa disebut terisi sekitar 75 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis sebesar 86 persen pada akhir Oktober.
Tingkat penyimpanan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena permintaan gas biasanya meningkat ketika suhu udara turun. Cadangan yang lebih rendah dapat mempersempit ruang bagi perusahaan energi untuk memenuhi lonjakan kebutuhan pemanasan.
Pasokan LNG dari Timur Tengah ke Eropa juga dilaporkan turun hampir 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya akibat hambatan pengiriman.
Dalam kondisi tersebut, pembeli Eropa berpotensi menghadapi persaingan lebih ketat dengan perusahaan energi Asia untuk memperoleh kargo LNG yang belum terikat kontrak di pasar Atlantik. Persaingan tersebut dapat mempertahankan tekanan terhadap harga gas Eropa menjelang musim dingin.