Comeback Syahrini: Media Sosial, Sebutan Diva, dan Partai Inces Indonesia

Syahrini dalam program Q&A. Foto: Tangkapan layar YouTube Metro TV

Comeback Syahrini: Media Sosial, Sebutan Diva, dan Partai Inces Indonesia

Muhamad Marup • 18 October 2026 22:50

Artis, Syahrini membagikan kiat bermedia sosial. Menurutnya, ada perbedaan sebelum dirinya menikah dan kini setelah berkeluarga.

 
Istri Reino Barack itu mengatakan awalnya ia betul-betul menutup komentar untuk semua orang. Hal tersebut demi menjaga suasana pernikahannya.

"Aku betul-betul awalnya menutup kolom komentar. Demi menjaga suasana pernikahan ini," ujar Syahrini, dalam program Q&A Metro TV, Minggu, 18 Oktober 2026.

Ia menyebut, seiring berjalannya waktu ia mulai membatasi siapa saja orang yang berkomentar. Hanya orang-orang yang saling mengikuti saja bisa berkomentar baik di media sosial Syahrini maupun Reino Barack.

"Jadi Instagram Pak RB (Reino Barack) dengan aku tuh kita udah set up. Dari awal bahwa orang yang random people, yang tidak kita follow dan tidak mem-follow kita, itu tidak bisa tag kita dan tidak bisa berkomentar," jelasnya.

Batasi Kolom Komentar, Syahrini Bagikan Kiat Bermedia Sosial

Syahrini dalam program Q&A. Foto: Tangkapan layar YouTube Metro TV
 

Syahrini menyebut, keputusan tersebut membuat kehidupannya lebih damai dan tidak risau dengan komentar atau unggahan. Meski begitu, ada satu akun pekerjaan dengan kolom komentar terbuka bagi siapa saja.

"Di situ monggo mau berkomentar A sampai Z gitu silahkan. Nah itu kolomnya aku buka. Dibebaskan untuk netizen yang budiman, silakan di situ berkomentar," katanya.

Ia menekankan bahwa tidak ingin kehidupan pribadinya terganggu media sosial. Menurutnya, harus ada ketegasan untuk memilih prioritas dalam bermedia sosial.

"Kita pilih. Kita putuskan saja prioritas hidup kita mau apa nih hari ini. Walaupun kita bermain media sosial, tapi memilih karena ada ranah-ranah yang bisa kita pilih," ucapnya.
 

Ingin Terus Berkarya

Syahrini mengaku butuh penyesuaian usai hiatus selama tujuh tahun dari panggung hiburan. Salah satu cara yang ia lakukan adalah menyesuaikan dengan perkembangan yang ada saat ini.

Syahrini bahkan menggunakan jasa konsultan untuk itu. Hal tersebut ia lakukan untuk mendukung performanya di atas panggung.

"Aku kan hiatus tujuh tahun. Apa yang sedang berkembang di gen Z, mereka (konsultan) hanya mencetuskan. Ini loh yang lagi rame, kayak kata-kata red flag," ujarnya.

Ia menjelaskan, konsep yang ia usung adalah sing and stand up comedy. Dengan demikian, penting baginya untuk mengetahui perkembangan industri hiburan hari ini.

"Jadi aku selalu berceloteh. Apa yang aku pikirkan di atas panggung hari itu, gak bisa aku ulang lagi di panggung selanjutnya," katanya.



Syahrini. Foto: Tangkapan layar YouTube Metro TV


Kendati sukses sebagai seorang penyanyi, Syahrini sendiri enggan dicap sebagai Diva. Menurutnya, ia hanya ingin menjadi seniman yang melegenda dengan terus berkarya, produktif, dan meninggalkan legacy yang positif.

"Saat konserku yang terakhir di Jambul Khatulistiwa, 10 tahun berkarya, aku bilang kadang-kadang sebagai penyanyi kita dijuluki Diva. Aku bukan Diva," jelasnya.

Ia mengaku, dirinya hanya ingin menjadi
seniman yang melegenda. Ia ingin terus berkarya, produktif, dan meninggalkan legacy yang positif.

Syahrini menambahkan, keinginannya itu untuk memberikan dampak positif untuk anaknya serta generasi mendatang. Sebagai penyanyi, ia ingin meninggalkan karya yang dikenang manfaatnya untuk orang banyak.

"Aku ingin terus berkarya, produktif, meninggalkan
legacy," jelasnya.

Di samping berkarya, Syahrini juga mengajak perempuan-perempuan untuk berkarya melalui Partai Inces Indonesia (PII). Partai Inces Indonesia adalah ruang untuk siapa saja yang berani menjadi diri sendiri, percaya diri, dan membawa energi positif dengan caranya masing-masing.

"PII ini, kader-kaderku merangkul kader-kader yang join di PII untuk menjadi diri sendiri supaya timbul adrenalin ingin berkarya, berkreasi, berkesenian," katanya.
PII memiliki tiga misi yaitu jadi diri sendiri, hempaskan negativitas, dan bersama jadi sesuatu. Tiga misi tersebut mendorong para perempuan untuk bisa berkarya.

"Apa pun bentuknya, apa pun kemampuan kita, galilah jati diri kita tanpa harus jadi orang lain," ucap Syahrini.

(Muhamad Marup)