Menteri Haji Klarifikasi soal Isu Anak Jadi Tenaga Ahli

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf. Foto: Istimewa.

Menteri Haji Klarifikasi soal Isu Anak Jadi Tenaga Ahli

Gabriella Thesa Widiari • 23 October 2026 22:50

Jakarta: Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf memberikan penjelasan terkait sorotan publik mengenai pengangkatan anaknya sebagai tenaga ahli di kementerian. Irfan memaparkan bahwa keterlibatan anak dan para santrinya sudah berlangsung sejak awal pembentukan Badan Penyelenggara Haji (BP Haji).

“Keluar dari istana kita enggak punya staf, kita enggak punya kantor, kita enggak punya apa-apa,” kata Irfan dalam keterangan tertulis, Jumat, 23 Oktober 2026.

Irfan menjelaskan bahwa anak dan para santrinya membantu proses pembentukan lembaga secara sukarela selama beberapa bulan tanpa menerima gaji. Seiring berkembangnya kelembagaan menjadi Kementerian Haji dan Umrah, beberapa pihak yang dinilai memiliki kompetensi kemudian diangkat menjadi tenaga ahli.

“Akhirnya Bang Dahnil disambut timnya dari Kementerian Pertahanan, saya disambut santri-santri saya dan sama anak saya. Dan mereka ini yang tanpa diminta membantu pembentukan badan penyelenggara haji itu, tanpa gaji tanpa apa-apa selama tiga atau empat bulan,” ujar Irfan.


Dua putra Menteri Haji Gus Irfan diduga masuk daftar tenaga ahli kementerian hingga memicu sorotan publik. Foto: tangkapan layar.

Selain persoalan tenaga ahli, Irfan memaparkan bahwa kementeriannya masih mengalami kekurangan ribuan pegawai berdasarkan analisis jabatan. Untuk menutupi keterbatasan sumber daya manusia tersebut, Kemenhaj membuka jalur mutasi ASN dari instansi lain dan mengerahkan tenaga alih daya.

“Karena itu semua sumber daya kita kerahkan. Termasuk outsourcing-outsourcing kita kerahkan untuk menutup kekurangan itu,” kata Irfan.

Irfan menegaskan bahwa pihak Kemenhaj menghormati seluruh masukan dan kritik masyarakat sebagai bentuk pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintah. Kemenhaj berkomitmen menjaga kepercayaan publik melalui keterbukaan serta peningkatan kualitas pelayanan jemaah.

“Dengan berbagai kelemahan, dengan kekurangan kita ambil mana yang bisa dalam rangka memberikan pelayanan kepada jemaah haji,” kata Irfan.

(Gabriella Thesa Widiari)