Kemendes Kirim 3 Ribu Pemuda ke Jepang untuk Gerakan Bangun Desa

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto. Foto: Dok. Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM).

Kemendes Kirim 3 Ribu Pemuda ke Jepang untuk Gerakan Bangun Desa

Metro TV • 14 October 2026 11:06

Jakarta: Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengirim 3.000 pemuda ke Jepang dalam gerakan pemuda bangun desa. Langkah strategis ini menjadi fondasi mengembangkan pemuda yang untuk membangun daerah masing-masing. 

“Kami juga sampaikan ada gerakan pemuda bangun desa bangun Indonesia, kami kirim ke Jepang dengan beasiswa 3.000 orang tanpa melalui APBN,” kata Mendes PDT, Yandri Susanto, dalam agenda Dialog Nasional Pemberdayaan, Langkah Transformasi Pemberdayaan Masyarakat Menuju Indonesia Emas 2045, Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.

Terlebih, tantangan pembangunan di tingkat akar rumput menuntut perhatian khusus, mengingat besarnya kesenjangan kemiskinan yang masih terjadi antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Menurut Yandri, angka kemiskinan masih 11%.

"Ini PR kita semua. Apalagi di daerah tertinggal dan sangat tertinggal, kemiskinan masih di angka 33%,” ujar Yandri.

Sementara berdasarkan data yang ada, sebagian besar masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya di kawasan pedesaan dengan segala potensi serta tantangan yang menyertainya. Total ada 75.266 desa, 70% penduduk Indonesia berdiam di desa.

"Oleh karena itu, kami dengan Asta Cita keenam Bapak Presiden (Prabowo Subianto) yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk memeratakan ekonomi sekaligus pemberantasan kemiskinan,” ujar Yandri.

Mendes PDT Yandrie Susanto. Metrotvnews.com/ Triawati

Yandri mengungkapkan efektivitas sebuah program pembangunan tidak akan berjalan optimal tanpa adanya kombinasi strategi yang tepat di lapangan. Pendekatan ini dinilai menjadi kunci utama agar warga desa dapat menerima dan mengelola program secara mandiri.

“Maka kata kuncinya memang dua, pemberdayaan dan pendampingan. Jadi masyarakat kalau hanya pemberdayaan tidak dilakukan pendampingan, program-program kita tidak akan maksimal. Tapi kalau kita melakukan pendampingan terus, tanpa ada pemberdayaan, masyarakat tidak bisa menerima itu,” ujar Yandri.

Sebagai bentuk tindak lanjut nyata, Kemendes PDT dan kementerian terkait telah menurunkan berbagai program intervensi. Berbagai unit usaha ekonomi seperti badan usaha milik desa, koperasi, hingga pengembangan sentra ekspor dan pariwisata digerakkan secara masif.

“Kami sudah ada 12 aksi bangun desa, bangun Indonesia. Tentu ada Bumdes, ada Kopdes, ada desa ekspor, ada desa wisata, ada desa-desa tematik. Ini sudah banyak, terutama semuanya itu adalah gerakan ekonomi,” ungkap Yandri.

Terakhir, Yandri menekankan keberhasilan pembangunan di tingkat akar rumput tidak dapat diselesaikan oleh satu instansi saja. Melainkan membutuhkan kerja sama erat dengan dunia usaha dan berbagai elemen masyarakat.

“Kami juga bersama dengan banyak perusahaan swasta untuk membangun desa. Intinya, membangun desa bukan hanya kerja sendiri, tapi kata Bapak Presiden, kita bukan Superman, tapi adalah Super Team. Insyaallah dengan super team maka Indonesia Emas tahun 2045 akan tercapai,” ujar Yandri.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Siti Yona Hukmana)